Selamat datang di blog Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif

Selamat datang di blog Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif

Kamis, 06 April 2017

MODEL PEMBELAJARAN PEMROSESAN INFORMASI

 Model Pembelajaran Pemrosesan Informasi

    Model ini berlandaskan teori belajar kognitif, yang dimana berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi dan sistem-sistem yang dapat memperbaiki kemampuannya. Menurut Oemar Hamalik (2011: 128-129) Pemrosesan informasi tersebut merujuk bagaimana cara-cara atau menerima informasi stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep, serta menggunakan simbol-simbol verbal dan non verbal. Kemudian menurut Syaiful sagala (2012,74) informasi yang diberikan dalam bentuk energy fisik tertentu (sinar untuk bahan tertulis, bunyi untuk bahan ucapan, tekanan untuk sentuhan, dll) diterima oleh reseptor yang peka terhadap tanda dalam bentuk-bentuk tertentu. Pada model ini, mengutamakan bagaimana membantu siswa agar mampu berpikir produktif, memecahkan masalah dengan kemampuan intelektual yang telah dimiliki oleh peserta didik.
    Model pemprosesan informasi pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri) untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengordinasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya. Beberapa model dalam kelompok ini memberikan kepada para siswa sejumlah konsep, sebagian lagi menitikberatkan pada pembentukan konsep dan pengetesan hipotesis, dan sebagian lainnya memusatkan perhatian pada pengembangan kemampuan kreatif. Beberapa model sengaja dirancang untuk memperkuat kemampuan intelektual umum.
    Menurut Robert M gagne dalam Rusman (2014: 139-140) dalam proses pembelajaran model pemrosesan informasi terdiri dari delapan fase, yakni sebagai berikut.
Motivasi, fase awal memulai pembelajaran dengan adanya dorongan untuk melakukan suatu tindakan dalam mencapai tujuan tertentu (motivasi instrinsik dan ekstrinsik);
Pemahaman, fase ini individu menerima dan memahami informasi yang diperoleh dari pembelajaran. Pemahaman didapat melalui perhatian;
Pemerolehan, individu memberikan makna/mempersepsikan segala informasi yang pada dirinya sehingga terjadi proses penyimpanan dalam memori peserta didik;
Penahanan, menahan informasi yang sampai pada dirinya sehingga terjadi proses penyimpanan dalam memori siswa;
 Ingatan kembali, mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan, bila ada rangsangan;
Generalisasi, menggunakan hasil pembelajaran untuk keperluan tertentu;
Perlakuan, perwujudan perubahan perilaku individu sebagai hasil pembelajaran;
Umpan balik, individu memperoleh feedback dari perilaku yang telah dilakukannya.
    Menurut Rusman (2014:140) pembelajaran pemrosesan informasi ada Sembilan langkah yang harus diperhatikan oleh seorang pendidikan, yakni sebagai berikut.
 Melakukan tindakan untuk menarik perhatian siswa;
Memberikan informasi mengenai tujuan pembelajaran dan topic yang akan dibahas;
Merangsang siswa untuk memulai aktivitas pembelajaran;
Menyampaikan isi pembelajaran sesuai dengan topic yang telah direncanakan;
Memberikan bimbingan bagi aktivitas siswa dalam pembelajaran;
Memberikan penguatan pada perilaku pembelajaran;
Memberikan feedback terhadap perilaku yang ditunjukkan siswa;
Melaksanakan penilaian proses dan hasil;
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan menjawab berdasarkan pengalamannya.

Rumpun Model Pemprosesan Informasi
    Menurut surya (2004) dalam syaiful sagalas (2012: 74) memiliki beberapa rumpun model pemrosesan informasi, yaitu: (1) model berpikir induktif, (2) Model latihan inkuiri, (3) inkuiri ilmiah, (4) penemuan konsep, (5) pertumbuhan konsep, (6) Model piƱata lanjutan, (7) memori.
    Macam-macam model pemrosesan informasi di atas akan dibahas secara lengkap sebagai berikut.
Berpikir induktif
    Model ini merupakan karya besar Hilda taba. Ia juga termasuk salah satu pencetus model pengembangan kurikulum yang bernama model pengembangan kurikulum Hilda taba. Model berpikir induktif ini beranggapan bahwa kemampuan berpikir seseorang itu tidak dengan sendirinya berkembang dengan baik jika proses pembelajaran dikembangkan tanpa memperhatikan kesesuaian dengan kebutuhan berpikir seseorang. Kemampuan berpikir harus diajarkan melalui pendekatan khusus yang memungkin peserta didik terampil dalam berpikir
    Model berpikir induktif ini merupakan suatu strategi mengajar yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik mengubah informasi. Kemudian model ini dikembangkan atas dasar, (1) kemampuan berpikir dapat diajarkan, (2) berpikir merupakan suatu transaksi aktif antara individu dengan data, dan (3) proses berpikir merupakan suatu urutan tahapan yang beraturan.
    Model berpikir induktif dilaksanakan dalam lima langkah, yaitu:
Membuat unit-unit percobaan (producing pilot units);
Menguji unit-unit eksperimen (testing experimental units) menguji ulang unit-unit yang telah digunakan oleh guru dikelas itu sendiri, kelas lain atau kelas yang berbeda;
Merevisi dan mengkonsolidasi yaitu mengadakan perbaikan dan penyempurnaan pada unit yang dicobakan;
Mengebangkan jaringan kerja untuk lebih meyakinkah apakah unit-unit yang telah direvisi dan konsolidasi dapat digunakan lebih luas atau tidak;
Memasang dan mendesiminasi unit-unit baru yang dihasilkan.

2.      Latihan inkuiri (inkuiri training)
Model latihan inkuiri dicetuskan oleh richard suchman. Menurutnya bahwa model ini digunakan untuk melatih peserta didik agar bisa melakukan penelitian, menjelaskan fenomena, dan memecahkan masalah secara alamiah (saiful sagalas, 2014: 76). Tujuan utama model ini adalah bagaimana agar peserta didik agar bisa memformulasikan masalah yang menarik, misterius, serta menantang agar peserta didik bisa berpikir ilmiah.
Kemudian menurut suchman dalam Uno (2009: 14) bahwa peserta didik: (1) secara alamiah manusia memiliki kecendrungan untuk selalu mencari tahu akan segala sesuatu yang menarik perhatiannya; (2) manusia akan menyadari rasa keingintahuan segala sesuatu tersebut dan akan belajar untuk mengalisis strategi berpikirnya; (3) srtategi baru dapat diajarkan secara langsung dan ditambahkan atau digabungkan dengan strategi lama yang telah dimiliki oleh peserta didik; (4) penelitian kooperatif dapat memperkaya kemampuan berpikir dan membantu peserta didik belajar tentang suatu ilmu yang senantiasa bersifat tentative dan belajar menghargai penjelasan atau solusi alternative.
Kemudian menurut Anurrahman (2012: 162) menjelaskan bahwa model ini dikembangkan melalui beberapa langkah, yakni sebagai berikut.
a)      Mempertentangkan suatu masalah (dalam hal ini guru menjelaskan prosedur inquiri dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang bertentangan);
b)      Siswa melakukan pengumpulan data serta melakukan klarifikasi;
c)      Siswa melakukan pengujian hipotesis;
d)     Siswa mengorganisasikan data memberikan penjelasan;
e)      Siswa melakukan analisis strategi inquiri dan mengembangkan secara lebih efektif.
3.      Inkuri ilmiah
Model inkuri ilmiah ini dipelopori oleh Josep J. Schwab. Model Inkuiri Ilmiah bertujuan agar peserta didik agar bisa meneliti, menjelaskan fenomena dan memecahkan masalah secara ilmiah serta mengajarkan bagaimana cara melakukan pencarian dan perenungan tentang pilihan-pilihan dan alternative-alternatif yang harus dihadapi manakala memmikirkan makna pendidikan, hakikat sains, dan karakter pemikiran pendidikan.
Menurut Aunurrahaman (2012: 161) penggunaan model ini dalam proses pembelajaran dilakukan dalam beberapa tahap, yakni sebagai berikut.
a)      Menyajikan area dalam penelitian kepada siswa;
b)      Siswa merumuskan masalah;
c)      Siswa mengidentifikasi masalah di dalam kegiatan penelitian;
d)     Siswa menentukan cara-cara untuk mengatasi kesulitan yang dihadapinya.
Dalam penerapan model ini dalam pembelajaran dituntut agar terciptanya iklim kelas yang kooperatif. Dalam hal ini guru agar bisa membimbing terlaksananya proses inquiry dan mendorong siswa agar berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran.
4.      Model penemuan konsep
Model penemuan konsep ini dipelopori oleh Jerome Bruner. Model ini berangkat dari suatu pandangan bahwa lingkungan memiliki manusia yang beragam. Peserta didik harus bisa membedakan, mengkatagorikan, dan menamakan semua itu sehingga menemukan suatu konsep. Jadi model penemuan konsep adalah suatu pendekatan yang bertujuan membantu siswa memahami konsep tertentu. Model ini bisa diterapkan pada semua umur, mulai dari anak-anak sampai pada dewasa
Menurutnya bahwa belajar memiliki tiga proses, yaitu: (1) memperoleh informasi baru; (2) mentransformasi pengetahuan; (3) menguji relevansi dan ketepatan ilmu pengetahuan.
Menurut aunurrahman (2012: 158) bahwa model penemuan konsep merupakan model pembelajaran yang dirancang untuk menata dan menyusun data sehingga konsep-konsep penting dapat dipelajari secara tepat dan efisien.
Dalam penerapan model ini dalam pembelajaran meliputi dalam tiga tahap, yakni sebagai berikut.
a)      Presentasi data dan identifikasi konsep, meliputi:
             1)      Guru mempresentasikan conto-contoh nama;
             2)      Siswa membandingkan ciri positif dan negative dari contoh yang dikemukakan;
             3)      Siswa menyimpulkan dan menguji hipotesis;
             4)      Siswa memberikan arti sesuai dengan ciri-ciri esensial;
b)      Menguji pencapaian konsep yang meliputi beberapa kegiatan, meliputi:
             1)      Siswa mengidentifikasi tambahan contoh yang tidak memiliki nama;
             2)      Guru mengkofirmasikan hipotesis, konsep nama dan definisi sesuai dengan ciri-ciri esensial.
c)      Menganalisis kemampuan berpikir strategis, meliputi:
            1)      Siswa mendeskripsikan pemikiran-pemikiran mereka;
            2)      Siswa mendiskusikan hipotesis dan atribut-atribut;
            3)      Siswa mendiskusikan bentuk dan jumlah hipotesis.

5.      Pertumbuhan kognitif
Model ini dipelopori oleh jean piaget dkk. Model ini menegaskan bahwa perkembangan kognitif sebagian besar dipengaruhi oleh manipulasi dan interaktif aktif peserta didik dengan lingkungannya dimana pengetahuan datang dari tindakannya. Melalui interaksi dengan lingkungan, struktur kognitif akan selalu berkembangan pengalaman dan berubah terus menerus selama interaksi itu belangsung. Cara ini akan membantu peserta didik agar meninmgkatkan pertumbuhan intelektualnya yang dimulai dari proses reflektif sampai pada peserta didik mampu memikirkan kejadian potensial dan secara mental mampu mengeksplorasi kemungkinan akibatnya.
Pada dasarnya model ini dirancang untuk meningkatkan perkembangan intelektual, penalaran logis, tetapi dapat diterapkan pada perkembangan social, karena pengalaman-pengalaman penting bagi terjadinya perkembangan.
Meurut Wina Sanjaya (2007 : 234 - 236) ada enam tahapan yang harus dilakukan dalam model pembelajaran pertumbuhan kognitif yaitu :
a)      Tahap orientasi
Pada tahap ini guru mengkondisikan siswa pada posisi siap untuk melakukan pembelajaran. Tahap orientasi dilakukan dengan, pertama, penjelasan tujuan yang harus dicapai baik tujuan yang berhubungan dengan penguasaan materi pelajaran yang harus dicapai, maupun tujuan yang berhubungan dengan proses pembelajaran atau kemampuan berpikir yang harus dimiliki siswa. Kedua, penjelasan proses pembelajaran yang harus dilakukan siswa, yaitu penjelasan tentang apa yang harus dilakukan siswa dalam setiap tahapan proses pembelajaran.

b)      Tahap pelacakan
Tahap pelacakan adalah tahap penjajakan untuk memahami pengalaman dan kemampuan dasar siswa sesuai dengan tema atau pokok persoalan yang akan dibicarakan. Melalui tahapan ini guru mengembangkan dialog dan tanya jawab untuk mengungkap pengalaman apa saja yang telah dimiliki siswa yang dianggap relevan dengan tema yang akan dikaji.
c)      Tahap konfrontasi
Tahap konfrontasi adalah tahapan penyajian persoalan yang harus dipecahkan sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa. Untuk merangsang peningkatan kemampuan siswa pada tahapan ini guru dapat memberikan persoalan-persoalan yang dilematis yang memerlukan jawaban atau jalan keluar. Pada tahap ini guru harus dapat mengembangkan dialog agar siswa benar-benar memahami persoalan yang harus dipecahkan.
d)     Tahap inkuiri
Pada tahap ini siswa belajar berpikir yang sesungguhnya. Melalui tahapan inkuri, siswa diajak untuk memecahkan persoalan yang dihadapi. Pada tahapan ini guru harus memberikan ruang dan kesempatan untuk mengembangkan gagasan dalam upaya pemecahan persoalan. Melalui berbagai tehnik bertanya guru harus dapat menumbuhkan keberanian siswa agar mereka dapat menjelaskan, mengungkap fakta sesuai dengan pengalamannya, memberikan argumentasi yang meyakinkan, mengembangkan gagasan dan lain sebagainya.
e)      Tahap akomodasi
Tahap akomodasi adalah tahap pembentukan pengetahuan baru melalui proses penyimpulan. Pada tahap ini siswa dituntut untuk dapat menemukan kata-kata kunci sesuai dengan topik atau tema pembelajaran. Pada tahap ini melalui dialog, guru membimbing agar siswa dapat menyimpulkan apa yang mereka temukan dan mereka pahami sekitar topik yang dipermasalahkan.
f)       Tahap transfer
Tahap transfer adalah tahapan penyajian masalah baru yang sepadan dengan masalah yang disajikan. Tahap transfer dimaksudkan sebagai tahapan agar siswa mampu mentransfer kemampuan berpikir setiap siswa untuk memecahkan masalah-masalah baru. Pada tahap ini guru dapat memberikan tugas-tugas yang sesuai dengan topik pembahasan
6.      Advanced Organizer
Model ini dipelopori oleh david ausubel, yang dimana untuk menerapkan konsepsi tentang struktur kognitif dalam merancang pembelajaran sehingga bisa meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari informasi yang baru.
Menurut Aunurrahman (2012: 160) Advanced organizer dalam proses pembelajaran memiliki tiga tahap, yaitu sebagai berikut.
a)      Tahap pertama
            1)      Menjelaskan tujuan pembelajaran;
            2)      Menjelaskan panduan pembelajaran;
            3)      Menumbuhkan kesadaran pengetahuan dan pengalaman siswa yang relevan;
Pada tahap ini dilakukan agar menarik minat peserta didik dan agar pemikiran dan aktivitas yang mereka lakukan berorientasi pada tujuan pembelajaran.
b)      Tahap kedua
             1)      Menjelaskan materi pembelajaran;
             2)      Menbangkitkan perhatian siswa;
             3)      Mengatur secara eksplisit tugas-tugas;
Pada tahap ini, bagaimana guru mempertahankan perhatian siswa yang sudah tumbuh melalui kegiatan tahap pertama agar mereka dapat memahami arah kegiatan secara jelas.
c)      Tahap ketiga
             1)      Menggunakan prinsip-prinsip secara terintegrasi;
             2)      Meningkatkan keaktivitas pembelajaran;
             3)      Mengembangkan pendekatan-pendekatan kritis guna memperjelas materi pembelajaran.
7.      Memorisasi
Model ini digunakan agar peserta didik mampu mengembangkan kemampuannya dalam menyerap dan megintegrasikan informasi sehingga siswa-siswa dapat mengingat informasi yang telah diterima dan dapat me-recall kembali pada saat yang diperlukan.
Menurut Aunurrahman (2012: 159) model pembelajaran jenis ini dapat dilakukan melalui beberapa tahap berikut ini:
Mencermati materi, yakni materi yang telah diberikan digarisbawahi bagian yang penting, memberi tanda pada bagian yang diperlukan;
Mengembangkan hubungan, yakni materi yang telah diberikan dicari hubungan antar materi yang saling terkait, dengan menggunakan kata kunci, kata yang bergaris atau dengan melingkarkan kata tertentu;
Mengembangkan sensori image, dengan menggunakan teknik yang lucu atau mungkin dengan kata-kata yang berlebihan sehingga lebih mudah diingat;
Melatih re-call dengan memperhatikan tahapan sebelumnya dan hal ini harus dipelajari  secara terus menerus.

Sumber: http://mehanaihsata.blogspot.co.id/2015/03/model-pembelajaran-pemrosesan-informasi.html

Kamis, 16 Maret 2017

MODEL - MODEL SISTEM PERILAKU

Semua model dalam kelompok ini memiliki dasar teoritis yang sama, yaitu suatu body of knowledge yang merujuk pada teori behavioral. Model-model ini menekankan pada upayanya untuk mengubah perilaku yang tampak dari para siswa. Beberapa model yang termasuk ke dalam kategori ini antara lain:


1. Model Instruksi Lansung
Kelompok : Model Perubahan Perilaku
Kritik terhadap instruksi lansung memperingatkan pada kita bahwa pendekatan ini seharusnya tidak digunakan setiap saat, untuk semua bidang pendidikan, atau untuk semua siswa. Beberapa keunggulan dari instruksi lansung ini adalah adanya focus akademik, arahan dan control guru, harapan yang tinggi terhadap perkembangan siswa, system manajemen waktu, dan atmosfer akademik yang relative stabil. Focus akademik berarti prioritas tertinggi terhadap penugasan dan penyelesaian tugas akademik.
a. Sintak
Tahap 1: Orientasi
1. Guru menentukan materi pelajaran
2. Guru meninjau pelajaran sebelumnya
3. Guru menentukan tujuan pelajaran
4. Guru menentukan prosedur pengajaran
Tahap 2: Presentasi
1. Guru menjelaskan konsep atau keterampilan baru
2. Guru menyajikan presentasi visual atas tugas yang diberikan
3. Guru memastikan pemahaman
Tahap 3: Praktik Yang Terstruktur
1. Guru menuntun kelompok siswa dengan contoh praktik dalam beberapa langkah
2. Siswa merespons pertanyaan
3. Guru memberikan koreksi terhadap kesalahan dan memperkuat praktik yang telah benar
Tahap 4: Praktik di Bawah Bimbingan Guru
1. Siswa berpraktik secara semi-independen
2. Guru menggilir siswa untuk melakukan praktik dan mengamati praktik
3. Guru memberikan tanggapan balik berupa pujian, bisiskan, maupun petunjuk
Tahap 5: Praktik Mandiri
1. Siswa melakukan praktik secara mandiri di rumah atau di kelas
2. Guru menunda respons balik dan memberikanya di akhir rangkaian praktik
3. Praktik mandiri dilakukan beberapa kali dalam periode waktu yang lama
b. System Social
System social dalam model intruksi lansung ini benar-benar terstruktur.
c. Peran/Tugas Guru
Dalam model ini, tugas guru adalah menyediakan pengetahuan mengenai hasil-hasil, membantu siswa mengandalkan diri mereka sendiri, dan memberikan reinforcement. System dukungan mencakup rangkaian tugas pembelajaran, yang terkadang sama rumitnya dengan seperangkat materi yang dikembangkan sendiri oleh tim instruktur.
d. System Dukungan
Lingkungan intruksi lansung adalah tempat dimana pembelajaran menjadi focus utama dan tempat dimana siswa terlibat dalam tugas-tugas akademik dalam waktu tertentu untuk mencapai rating kesuksesan yang tinggi.
e. Pengaruh
Dibimbing dan pemberian respon-balik secara lansung. Model ini menuntut siswa untuk mendekati materi akademik secara sistematik. Rancangan dibentuk untuk menungkatkan dan memelihara motivasi melalui aktivitas pengendalian diri dan penguatan ingatan terhadap materi-materi yang telah dipelajari. Melalui kesuksesan dan respons-balik positif, model ini mencoba memperkaya penghargaan diri siswa.



2. Model Simulasi

Kelompok : model perubahan perilaku Carl Smith dan Mary Smith (1966)
Simulasi pada hakikatnya didasarkan pada prinsip sibernatik yang dihubungkan dengan computer. Focus utama dalam teori ini adalah munculnya kesamaan antara mekanisme control timbale balik dari system electronic dengan system-sistem manusia. Ada banyak contoh simulasi yang berasal dari berbagai hal, seperti permainan, kompetisi, kerja sama dan beberapa hal yang dilakukan oleh perseorangan dengan standar mereka pribadi. Dengan simulasi, tugas pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa agar tidak begitu rumit daripada yang tampak di dunia nyata, sehingga siswa bisa dengan mudah dan cepat menguasai skill yang tentu saja akan sangat sulit ketika mereka mencoba menguasainya di dunia nyata.
a. Sintak
Tahap 1: Orientasi
1. Guru menyajikan topic mengenai simulasi dan konsep yang akan dipakai dalam aktivitas simulasi.
2. Guru menjelaskan simulasi dan permainan.
3. Guru menyajikan ikhtisar simulasi.
Tahap 2 : Latihan Partisipasi
1. Guru membuat scenario (aturan, peran, prosedur, skor, tipe keputusan yang akan dipilih, dan tujuan)
2. Guru menugaskan peran simulasi kepada siswa
3. Siswa melaksanakan praktik dalam jangka waktu yang singkat
Tahap 3: Pelaksanaan Simulasi
1. Guru memimpin aktivitas permainan dan administrasi permainan
2. Siswa mendapatkan umpan balik dan evaluasi (mengenai penampilan dan pengaruh keputusan)
3. Guru menjelaskan kesalahan konsepsi
4. Siswa melanjurkan simulasi
Tahap 4: Wawancara Siswa
1. Guru menyimpulkan kejadian dan persepsi
2. Siswa menyimpulkan kesulitan dan pandangan-pandanganya
3. Guru dan siswa menganalisis proses
4. Guru dan siswa membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata
5. Siswa menghubungkan aktivitas simulasi dengan materi pelajaran
6. Guru menilai dan kembali merancang simulasi.
b. System Sosial
Kesuksesan terakhir dalam simulasi, sebenarnya, juga ditentukan oleh kerja sama dan kemauan untuk berpartisipasi dalam diri siswa. Dengan bekerja sama, siswa bisa saling sharing ide, saling mengevaluasi dengan teman-temanya, dan tidak hanya bergantung pada evaluasi guru. System sosial seperti ini seharusnya menyenangkan dan meriah.
c. Peran/Tugas Guru
Peran guru tidak jauh berbeda dengan fasilitator. Selama proses simulasi, ia harus menunjukan sikap yang tidak evaluative namun tetap suportif. Disini guru bertugas untuk menyajikan, lalu memfasilitasi pemahaman dan penafsiran tentang aturan-aturan simulasi. Selain itu, untuk dapat membuat aktivitas semenarik mungkin dan mendapat perhatian serta focus pada isu yang tidak relevan, guru harus lansung menghampiri kelompok yang menenangkan permainan.
d. System Dukungan
Yaitu berupa Social Science Education Consortium data book yang menyajikan lebih dari lima puluh simulasi yang cocok digunakan dalam situasi social. Selain itu banyak simulasi computer telah dikembangkan pada tahun-tahun belakangan ini dan sangat mudah dipraktikan.
e. Pengaruh
Dapat menuntun pada pencapaian hasil akademik, seperti konsep dan skill, kerja sama dan persaingan, pemikiran kritis dan pembuatan keputusan, pengetahuan system politik, social, dan ekonomi, efektivitas, kesadaran terhadap masing-masing peran, dan menerima konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.

Rabu, 08 Maret 2017

MODEL PEMBELAJARAN INDIVIDUAL

A.      Model Pembelajaran Individual
Pembelajaran individual adalah pembelajaran yang memetik beratkan bantuan dan bimbingan kepada masing2 individu. Bantuan dan bimbingan belajar kepada individu juga ditemukan pada klasikal tetapi prinsipnya berbeda. Pada pembelajaran individual , pembelajaran memberi bantuan kepada masing2 pribadi. Sedangkan pada pembelajaran klasikal , pembelajaran memberi bantuan individual secara umum.
Pembelajaran Individual atau Pengajaran Perseorangan merupakan suatu strategi untuk mengatur kegiatan belajar mengajar sedemikian rupa sehingga setiap siswa memperoleh perhatian lebih banyak dari pada yang dapat diberikan dalam rangka pengelolaan kegiatan belajar mengajar dalam kelompok siswa yang besar. Menurut duane (1973) pengajaran individual merupakan suatu cara pengaturan program belajar dalam setiap mata pelajaran, disusun dalam suatu cara tertentu yang disediakan bagi tiap siswa agar dapat memacu kecepatan belajarnya dibawa bimbingan guru.
Adanya perbedaan individual menunjukkan adanya perbedaan kondisi belajar setiap orang, agar individual dapat berkembang secara optimal dalam proses belajar diperlukan orientasi yang paralel dengan kondisi yang dimilinya dituntut penghargaan akan individualitas. Dalam pengajaran beberapa perbedaan yang harus diperhatikan, yakni:
1.      Perbedaan umur
2.      Perbedaan intelegensi
3.      Perbedaan kesanggupan dan kecepatan
4.      Perbedaan jenis kelamin

Perbedaan individual tersebut harus mendapat perhatian guru agar berhasil dalam pemberian pembelajaran kepada siswa. Untuk mengetahui itu guru harus mengenal perbedaan yang ada pada siswa, antara lain dengan cara tes, mengunjungi rumah orang tua siswa, sosiogram, dan case studi.
Model Pembelajaran Individual menawarkan solusi terhadap masalah peserta didik yang beraneka ragam tersebut. Pembelajaran individual memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menentukan sendiri tempat, waktu, kapan dirinya merasa siap untuk menempuh ulangan atau ujian. Pembelajaran individual mempunyai beberapa ciri, sebagai berikut :
1.      Peserta didik belajar sesuai dengan kecepatannya masing – masing, tidak  pada kelasnya.
2.      Peserta didik belajar secara tuntas, karena peserta didik akan ujian jika mereka siap.
3.      Setiap unit yang dipelajari memuat tujuan pembelajaran khusus yang jelas.
4.      Keberhasilan peserta didik diukur berdasarkan sistem nilai mutlak. Ia berkompetisi dengan angka bukan dengan temannya.

Model pembelajaran individual ini bertitik tolak dari teori Humanistik yaitu berorientasi terhadap pengembangan diri individu. Perhatian utamanya pada emosional siswa untuk mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Model ini menjadikan pribadi siswa yang mampu membentuk hubungan yang harmonis serta mampu memproses informasi secara efektif.
Model ini juga berorientasi pada individu dan perkembangan kelakuan. Tokoh humanistik adalah Abraham Maslow (1962), R.Rogers,C.Buhler dan Arthur Comb. Menurut teori ini , guru harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif , agar siswa merasa bebas dalam belajar dan mengembangkan dirinya , baik emosional maupun intelektual . Teori humanistik timbul sebagai gerakan memanusiakan manusia . Pada teori humanistik ini, pendidik seharusnya berperan sebagai pendorong , bukan menahan sensitifitas siswa terhadap perasaannya.
Implikasi teori humanistik dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
1.      Bertingkah laku dan belajar adalah hasil pengamatan;
2.      Tingkah laku yang ada , dapat dilaksanakan sekarang (learning to do);
3.      Semua individu memiliki dorongan dasar terhadap aktualisasi diri;
4.      Sebagian besar tingkah laku individu adalah hasil dari konsepsinya sendiri;
5.      Mengajar adalah bukan hal penting , tapi belajar siswa adalah sangat penting (learn how to learn);
6.      Mengajar adalah membantu individu untuk mengembangkan suatu hubungan yang produktif dengan lingkungannya dan memandang dirinya sebagai pribadi yang cakap.
Model pembelajaran personal ini meliputi strategi pembelajaran sebagai berikut:
1.      Pembelajaran non-direktif , bertujuan untuk membentuk kemampuan dan perkembangan pribadi (kesadaran diri, pemahaman dan konsep diri);
2.      Latihan kesadaran , bertujuan untuk meningkatkan kemampuan interpersonal atau kepedulian siswa;
3.      Sintetik; untuk mengembangkan kreatifitas pribadi dan memecahkan masalah secara kreatif;
4.      Sistem konseptual , untuk meningkatkan kompleksitas dasar pribadi yang luwes.

Menurut Jioyce dan Weil (1986) memiliki unsur-unsur sebagai berikut: 
1.      Sintaks (Syntax) yaitu urutan langkah pengajaran yang menunjuk pada fase-fase /tahap-tahap yang harus dilakukan oleh guru bila ia menggunakan model
pembelajaran tertentu. Misalnya model eduktif akan menggunakan sintak yang berbeda dengan model induktif
2.      Prinsip Reaksi (Principles of Reaction) berkaitan dengan pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru melihat dan memperlakukan para siswa, termasuk bagaimana seharusnya guru memberikan respon terhadap siswa. Prinsip ini memberi petunjuk bagaimana seharusnya guru menggunakan aturan permainan yang berlaku pada setiap model.
3.      Sistem Sosial (The Social System adalah pola hubungan guru dengan siswa pada saat terjadinya proses pembelajaran (situasi atau suasana dan norma yang berlaku dalam penggunaan model pembelajaran tertentu)
4.      Sistem Pendukung (Support System) yaitu segala sarana, bahan dan alat yang diperlukan untuk menunjang terlaksananya proses pembelajaran secara optimal.
5.      Dampak Instruksional (Instructional Effect) dan Dampak Pengiring (Nurturant Effects). Dampak instruksional adalah hasil belajar yang dicapai atau yang berkaitan langsung dengan materi pembelajaran, sementara dampak pengiring adalah hasil belajar samapingan (iringan) yang dicapai sebagai akibat dari penggunaan model pembelajaran tertentu. 

B.  Sintaks Model Pembelajaran Individu
Pengajaran individual dapat mencakup cara-cara pengaturan sebagai berikut:
1.      Rencana Studi Mandiri (Independent Study plans)
Guru dan siswa bersama-sama mengadakan perjanjian mengenai materi pelajaran yang akan dipelajari dan apa tujuannya. Para siswa mengatur belajarnya sendiri dan diberikan kesempatan untk berkonsultasi secara berkala kepada guru untuk memperoleh pengarahan atau bantuan dalam menghadapi tes dan menyelesaikan tugas-tugas perseorangan.

2.      Studi yang Dikelola Sendiri (Self-Directed Study)
Siswa diberi sejumlah daftar tujuan yang harus dicapai serta materi pelajaran yang harus dipelajari untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dilengkapi dengan daftar kepustakaan. Pada waktu-waktu tertentu siswa menempuh tes dan dinyatakan lulus apabila telah memenuhi kriteria yang ditetapkan.

3.      Program Belajar yang berpusat pada siswa (Learner-Centered Program)
Dalam batas-batas tertentu siswa diperbolehkan menentukan sendiri materi yang akan dipelajari dan dalam urutan yang bagaimana. Setelah siswa menguasai kemampuan-kemampuan pokok dan esensial, mereka diberi kesempatan untuk belajar program pengayaan.

4.      Belajar Menurut Kecepatan Sendiri (Self-Pacing)
Siswa mempelajari materi pelajaran tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus yang telah ditetakan oleh guru. Semua siswa arus mencapai tujuan pembelajaran khusus yang sama, namn mereka mengatur sendiri laju kemajuan belajarnya daam mempelajari materi pelajaran tersebut.

5.      Pembelajaran yang ditentukan oleh siswa sendiri. (Student-Determined Instruction)
Pengaturan pembelajaran tersebut menyangkut: penentuan tujuan pembelajaran (umum dan khusus), pilihan media pembelajaran dan nara suumber, penentuan alokasi waktu untuk mempelajari berbagai topik, penentuan laju kemajuan sendiri, mengevaluasi sendiri pencapaian tujuan pembelajaran, dan kebebasan untuk memprioritaskan materi pelajaran tertentu.

6.      Pembelajaran Sesuai Diri (Individual Instruction)
Strategi pembelajaran ini mencakup enam unsur dasar, yaitu, kerangka waktu yang luwes, adanya tes diagnostik yang diikuti pembelajaran perbaikan (memperbaiki keselahan yang dibuat siswa atau memberi kesempatan kepada siswa untuk ;melangkah bagian materi pelajaran yang telah dikuasainya, pemberian kesempatan kepada siswa untuk memilih bahan belajar yang sesuai, penilaian kemajuan belajar siswa dengan menggunakan bentuk-bentuk penilaian yang dapat dipilih dan penyediaan waktu mengerjakan yang luwes, pemilihan lokasi belajar yang bebas, dan adanya bentuk-bentuk kegiatan belajar bervariasi yang dapat dipilih.

7.      Pembelajaran Perseorangan Tertuntun (Indivully Prescribed Instruction)
Sistem pembelajaran ini didasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran terprogram. Setiap siswa diarahkan pada program belajar masing-masing berdasarkan rencana kegiatan belajar yang telah disiapkan oleh guru atau guru bersama siswa berdasrkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan dirumuskan secara operasional. Rencana kegiatan ini berkaitan dengan materi pelajaran yang harus dipelajari atau kegiatan yang harus dilakukan siswa.

C.      Metode Dan Teknik Yang Digunakan

1.      Metode Tanya Jawab
Tanya jawab ialah suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang perlu dijawab oleh anak didik. Dengan metode ini, antara lain dapat dikembangakan keterampilaan mengamati, menginterprestasi, mengklasifikasi, membuat kesimpulan dan menerapkan. Metode Tanya jawab mempunyai tujuan agar siswa dapat mengerti atau mengingat ingat tentang apa yang dipelajari.

2.      Metode Tugas
Metode tugas adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Masalah tugas yang dilaksanakan oleh siswa dapat dilakukan didalam kelas, dihalaman sekolah, dan diperpustaan ataupun dirumah asalkan tugas itu dapat dikerjakan. Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran yang terlalu banyak sementara waktu sedikit. Tugas biasanya bisa dilaksanakan dirumah, disekolah, dan diperpustakaan. Tugas bisa merangsang anak untuk aktif belajar, baik secara individual ataupun kelompok.

3.      Metode Latihan
Metode latihan yang disebut juga metode training merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan–kebiasaan tertentu, juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik.

4.      Metode Pembiasaan
Metode pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk pembiasaan anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.

5.      Metode Keteladanan
Keteladanan dalam bahasa arab di sebut uswah, iswah, atau qudwah, qidwah yang berarti perilaku baik yang dapar ditiru oleh orang lain (anak didik). Metode keteladanan memiliki peranan yang sangat signifikan dalam upaya pencapaian keberhasilan pendidikan.

Menurut Hamzah B. Uno (2008 : 18), ada beberapa model pembelajaran yang termasuk pada pendekatan pembelajaran individual, diantaranya adalah model pembelajaran pengajaran tidak langsung (non directive teaching), model pembelajaran pelatihan kesadaran (awareness training), sinektik, sistem konseptual, dan model pembelajaran pertemuan kelas (clasroom meeting).
Berikut adalah model-model pembelajaran yang lain :
1.      Distance learning (pembelajaran jarak jauh)
2.      Resource-based learning (pembelajaran langsung dari sumber)
3.      Computer-based training (pelatihan berbasis komputer)
4.      Directed private study (belajar secara privat langsung)

D.    Peranan Pembelajar Dalam Pembelajaran Individual
1.      Dalam perencanaan kegiatan belajar adalah :
a.       membantu merencanakan kegitan belajar pebelajar, dengan musyawarah pembelajar membantu pebelajar menetapkan tujuan belajar.
b.      membicarakan pelaksanaan belajar, mengemukakan kriteria keberhasilan belajar, menentukan waktu dan kondisi belajar
c.       berperan sebagai penasehatatau pembimbing membantu pebelajar dalam penilaiaanhasil belajar dan kemajuan sendiri.

2.      dalam pengorganasasian gegiatan belajar adalah:
a.    memberikan orientasi umum sehubungan dengan dengan belajar topik tertentu
b.    membuat variasi kegiatan belajar agar tidak terjadi kebosanan
c.    mengkoordinasiakankegiatan dengan memperhatiakan kemajuan, materi, media, dan sumber.
d.   membagi perhatian pada sejumlah pebelajar menurut tugas dan kebutuhan pebelajar memberikan balikan pada setiap pebelajar
e.    mengakhiri kegiatan belajar suatu unjuk hasil belajar berupa laporan atau pameran hasil kerja.

E.       Tujuan Pembelajaran Individual
Tujuan pembelajaran individual  adalah sebagai beikut :

1.      Pemberian kesempatan dan keleluasaan pembelajar untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri . dalam pembelajaran pembelajar menggunakan ukuran-ukuran kemampuan rata-rata kelas. Dalam pembelajaran individual  awal pelajaran adalah kemampuan tiap individual , sedangkan pada pembelajaran klasikal awal pelajaran berdasarkan rata-rata kelas . pembelajaran menyesuaikan diri dengan kemampuan rata-rata kelas.
2.      Pengembangan tiap individusecara optimal . tiap individu memiliuki paket pembelajaran sendriri-sendiri. Yang sesuai dengan tingkat belajarnya sesuai individual juga.

F.    Kelebihan Dan Kekurangan Pembelajaran Individual

1.      Kelebihan

a.       Pembelajaran tidak dibatasi waktu
b.      Siswa dapat belajar secara tuntas
c.       Perbedaan-perbedaan yang banyak di antara para peserta dipertimbangkan
d.      Para peserta didik dapat bekerja sesuai dengan tahapan mereka dengan waktu yang dapat mereka sesuaikan
e.       Gaya-gaya pembelajaran yang berbeda dapat diakomodasi
f.       Hemat untuk peserta dalam jumlah besar
g.      Para peserta didik dapat lebih terkontrol mengenai bagaimana dan apa yang mereka pelajari
h.      Merupakan proses belajar yang bersifat aktif bukan pasif

2.      Kelemahan
Beberapa kelemahan:
a.       Memerlukan waktu yang banyak untuk mempersiapkan bahan-bahan
b.      Motivasi peserta mungkin sulit dipertahankan
c.       Peran instruktur perlu berubah
d.       Keberhasilan tujuan pembelajaran kurang tercapai, karena tidak ada tempat untuk siswa bertanya

G.      Rumpun Individual
Rumpun individual yakni bagaimana seorang fasilitator menggunakan teknik yang bersifat non direktif atau tidak langsung, dengan menggali informasi dari siswa mengenai dunia sekitamya. Tekanan dilakukan untuk membantu siswa memahami dirinya sendiri, apa yang diceritakannya, tanggungjawab yang harus dipikulnya, dan arah hidupnya. Suasana yang diciptakan dalam model ini adalah suasana kesejajaran antara siswa dan fasilitator yang sama‑sama dalam proses menjadi manusia. Fokus pembelajaran semacam ini adalah pada individu itu secara menyeluruh dan bukan terutama kepada aspek‑aspek yang bersifat parsial. Di antara hal yang dikembangkan dalam model ini adalah konsep diri, yaitu bagaimana gambaran tentang diri seseorang baik jasmani maupun rohaninya, serta kemampuan sosial, stabilitas emosi, dan kemampuan­-kemampuan lainnya. Diharapkan dengan konsep diri yang positif, seseorang menjadi realistis terhadap keadaan dirinya
Model-model pembelajaran ini menekankan pada proses dalam “membangun/mengkonstruksi” dan mengorganisasi realita, yang memandang manusia sebagai pembuat makna. Model-model pembelajaran rumpun ini memberikan banyak perhatian pada kehidupan emosional. Fokus pembelajaran ditekankan untuk membantu individu dalam mengembangkan hubungan individu dengan lingkungannya dan untuk melihat dirinya sendiri. Jenis-jenis model pembelajaran pribadi seperti tercantum pada tabel 3.2.

No.
Nama Model
Pembelajaran
Tokoh
Misi/tujuan/manfaat
1
Carl Rogers
Penekanan pada pembentukan kemampuan belajar sendiri untuk mencapai pemahaman dan penemuan diri sendiri sehingga terbentuk konsep diri. Model ini menekankan pada hubungan guru-peserta didik.
2.
Fritz Perls
William Schutz
Pembentukan kemampuan menjajagi dan
menyadari pemahaman diri sendiri.
3
William
Gordon
Pengembangan individu dalam hal kreativitas dan pemecahan masalah kreatif.
4
David Hunt
Didisain untuk meningkatkan kompleksitas pribadi dan fleksibilitas.
5
William
Glasser
Pengembangan pemahaman diri dan tanggungjawab pada diri sendiri dan kelompok sosial lainnya.