1.
KONSEP MODEL PEMBELAJARAN
Istilah
model diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari benda sesungguhnya,
seperti globe adalah model dari bumi tempat kita hidup. Dalam konseks
pembelajaran, Joyce dan Weil (Udin S.Winataputra, 2001) mendefinisikan model sebagai
kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu
kegiatan. Jadi, model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan
prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk
mencapai tujuan belajar tertentu.
Di
dalam literatur ditemukan berbagai macam model pembelajaran. Beberapa diantara
model pembelajaran tersebut diasumsikan dapat dimanfaatkan dalam melaksanakan
pembelajaran IPS di SD. Untuk memilih/menentukan model pembelajaran yang sesuai
untuk peserta didik pada jenjang pendidikan tertentu, perlu disesuaikan dengan
tingkat perkembangan peserta didik dan prinsip-prinsip belajar,(seperti
kecepatan belajar, motivasi, minat, keaktivan siswa dan umpan balik/penguatan),
serta yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa pemilihan model-model
pembelajaran seyogianya berbasis pada pendekatan pembelajaran yang berorientasi
pada konsep pembelajaran mutakhir.
1.
Istilah
“model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan
sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan.
2.
Pada
pembelajaran istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual
yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Model berfungsi
sebagai pedoman bagi pembelajar dalam merencanankan dan melaksanakan
aktivitas pembelajaran.
3.
Model
dapat diartikan sebagai suatu pola yang digunakan dalam
menyusun kurikulum, merancang dan menyampaikan materi, mengorganisasikan
pebelajar, dan memilih media dan metode dalam suatu kondisi pembelajaran.
Model menggambarkan tingkat terluas dari praktek pembelajaran dan
berisikan orientasi filosofi pembelajaran, yang digunakan untuk menyeleksi
dan menyusun strategi pengajaran, metode, keterampilan, dan aktivitas
pebelajar untuk memberikan tekanan pada salah satu bagian pembelajaran
(topik konten).
Metode
pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan
praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode
pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi
pembelajaran. Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada
strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran
mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode
pembelajaran :
1.
Rasional teoritis yang logis yang disusun
oleh pendidik.
2.
Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
3.
Langkah-langkah mengajar yang
duperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal.
4.
Lingkungan belajar yang diperlukan agar
tujuan pembelajaran dapat dicapai.
Komponen
Model Pembelajaran
Berbicara
lebih jauh tentang model pembelajaran ini, Joyce dan Weil (1986) mengemukakan
beberapa key ideas yang perlu kita pahami sebagai komponen
suatu model pembelajaran :
1.
Sintaks (Syntax) daripada model, yaitu langkah-langkah,
fase-fase, atau urutan kegiatan pembelajaran. Jadi sintaks itu adalah
deskripsi model dalam action. Setiap model mempunyai sintaks atau
struktur model yang berbeda-beda
2.
Prinsip
Reaksi (Principle of
Reaction) yaitu reaksi pembelajar
atas aktivitas-aktivitaspebelajar. Jadi prinsip reaksi itu akan membantu
memilih reaksi-reaksi apa yang efektif dilakukan pebelajar.
3.
Sistem-Sosial (social system)
Sistem
sosial ini mencakup, 3 (tiga) pengertian utama yaitu :
-
deskripsi
rnacam-macam peranan pembelajar dan pebelajar
-
deskripsi
hubungan hirarkis/ otoritas pembelajar dan pebelajar,
-
deskripsi
macam-macam kaidah untuk mendorong pebelajar.
Sistem sosial sebagai unsur model agaknya kurang
berstruktur dibandingkan dengan unsur sintaks.
4.
Sistem
Pendukung (Support System)
Sistem
pendukung ini sesungguhnya merupakan kondisi yang dibutuhkan oleh suatu
model. Jadi, bukanlah model itu sendiri. Sistem pendukungnya bertolak dari
pertanyaan-pertanyaan dukungan apa yang dibutuhkan oleh suatu model
agar tercipta lingkungan khusus. Dalam hubungan ini, sistem pendukung itu
berupa kemampuan/keterampilan dan fasilitas-fasilitas teknis. Sistem
pendukung diturunkan dari dua sumber yaitu kekhususan-kekhususan peranan
pembelajar dan tuntutan pebelajar.
Dalam
proses pembelajaran umumnya membutuhkan transkrip atau deskripsi peristiwa
pembelajaran bagi pengguna model-model tertentu. Di samping itu dibutuhkan
pula analisis kesulitan pelajaran dan analisis kesulitan-kesulitan khusus
penggunaan model. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa setiap model mempunyai
kegunaan utama di samping kegunaan-kegunaan lainnya yang dapat diterima.
5.
Dampak instuksional (Instructional effects)
Dalam hal
ini beberapa model didesain untuk tujuan-tujuan yang amat spesifik dan
beberapa lainnya dapat dipergunakan secara umum. Penggunaan model manapun
harus dapat memberi efek belajar bagi pebelajar. Efek belajar ini dapat
berupa direct atauinstructional effects atau
berupa indirect. Instructional effects adalah
pencapaian tujuan sebagai akibat kegiatan-kegiatan
instruksional. Biasanya beberapa pengetahuan Biasanya beberapa
pengetahuan/ketrampilan.
6.
Dampak Pengiring (nurturant effect)
nurturant
effect adalah efek-efek
pengiring yang ditimbulkan model karena pebelajar menghidupi (living in)
sistem lingkungan belajar, misalnya kemampuan berpikir kreatif
sikap terbuka dan sebagainya. Seorang pembelajar memiliki model atau
strategipembelajaran karena ingin mencapai instructional effects dan nurturant
effects
B. PENGERTIAN PENGEMBANGAN
PEMBELAJARAN
Clarence
Schauer menyebut pengembangan pembelajaran (pengembangan instruksional) sebagai
perencanaan secara akal sehat untuk mengidentifikasikan masalah belajar dan
mengusahakan pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan suatu rencana
terhadap pelaksanaan, evaluasi,
uji coba, umpan balik, dan hasilnya. Twelker, Urbach, dan Buck mendefinisikan pengembangan pembelajaran sebagai cara yang sistematik untuk mengidentifikasi,
mengembangkan, dan mengevaluasi satu set bahan dan strategi belajar dengan maksud
mencapai tujuan tertentu. Suparman menyebut pengembangan pembelajaran sebagai suatu proses yang sistematik meliputi identifikasi
masalah, pengembangan strategi dan bahan instruksional, serta evaluasi terhadap
strategi dan bahan instruksional dalam mencapai tujuan pembelajaran secara
efektif dan efisien (Suparman, 1991).
Berdasarkan
beberapa pengertian para ahli maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan pembelajaran adalah serangkaian proses yang dilakukan untuk menghasilkan suatu
sistem pembelajaran.
Model pengembangan pembelajaran yang dikembangkan oleh Dick & Carey telah lama digunakan untuk
menciptakan program pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik. Model yang
dikembangkan didasarkan pada penggunaan pendekatan sistem terhadap
komponen-komponen dasar dari desain sistem pembelajaran yang meliputi analisis, desain, pengembangan,
implementasi, dan evaluasi (Benny, 2010).
Menurut
pendekatan model Dick & Carey dalam Trianto (2010) terdapat beberapa
komponen yang akan dilewati dalam proses pengembangan dan perancangan
pembelajaran yang berupa urutan
langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Identifikasi tujuan
(identity instructional goals).
Tahap
awal model ini adalah menentukan apa yang diinginkan agar siswa dapat
melakukannya ketika mereka telah menyelesaikan program pengajaran. Definisi
tujuan pengajaran mengacu pada kurikulum tertentu atau juga berasal dari daftar
tujuan sebagai hasil need analysis, atau dari pengalaman praktek dengan kesulitan belajar siswa
di dalam kelas.
2.
Melakukan analisis
instruksional (conducting a goal analysis).
Setelah
mengidentifikasi tujuan pembelajaran, maka akan ditentukan apa tipe belajar
yang dibutuhkan siswa. Tujuan yang dianalisis untuk mengidentifikasi
keterampilan yang lebih khusus lagi yang harus dipelajari. Dalam melakukan
analisis instruksional kompetensi yang diharapkan berupa pengetahuan, sikap,
dan keterampilan. Analisis ini akan menghasilkan chart atau diagram tentang
keterampilan-keterampilan/konsep dan menunjukkan keterkaitan antara
keterampilan/konsep tersebut.
3.
Mengidentifikasi
tingkah laku awal/karakteristik siswa (identity entry behaviours, characteristic).
Ketika
melakukan analisis terhadap keterampilan-keterampilan yang perlu dilatihkan dan
tahapan prosedur yang perlu dilewati, juga harus dipertimbangkan keterampilan
apa yang telah dimiliki siswa saat mulai mengikuti pengajaran. Yang penting
juga untuk diidentifikasi adalah karakteristik khusus siswa yang mungkin ada
hubungannya dengan rancangan aktivitas-aktivitas pengajaran.
4.
Merumuskan tujuan
kinerja (write performance objectives).
Berdasarkan
analisis instruksional dan pernyataan tentang tingkah laku awal siswa,
selanjutnya akan dirumuskan pernyataan khusus tentang apa yang harus dilakukan
siswa setelah menyelesaikan pembelajaran.
5.
Pengembangan tes
acuan patokan (developing
criterian-referenced test items).
Pengembangan
tes acuan patokan didasarkan pada tujuan yang telah dirumuskan, pengembangan
butir assesmen untuk mengukur kemampuan siswa
seperti yang diperkirakan dalam tujuan.
6.
Pengembangan
strategi pengajaran (develop instructional
strategy).
Informasi
dari lima tahap sebelumnya, maka selanjutnya akan mengidentifikasi yang akan
digunakan untuk mencapai tujuan akhir. Strategi akan meliputi aktivitas
prainstruksional, penyampaian informasi, dan praktek.
7.
Pengembangan atau
memilih pengajaran (develop and select instructional
materials).
Tahap
ini akan digunakan strategi pengajaran untuk menghasilkan pengajaran/bahan ajar
yang akan digunakan.
8.
Merancang dan
melaksanakan evaluasi formatif (design and conduct formative evaluation).
Evaluasi
dilakukan untuk mengumpulkan data yang akan digunakan untuk mengidentifikasi
kekuatan dan kelemahan program pembelajaran. Hasil dari evaluasi formatif dapat
digunakan sebagai masukan atau input untuk memperbaiki draft program.
9.
Menulis perangkat (design and conduct
summative evaluation).
Hasil-hasil
pada tahap di atas dijadikan dasar untuk menulis perangkat yang dibutuhkan.
Hasil perangkat selanjutnya divalidasi dan diujicobakan di
kelas/diimplementasikan di kelas.
10. Revisi pengajaran (instructional revitions).
Data
yang diperoleh dari prosedur evaluasi formatif dirangkum dan ditafsirkan untuk
mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh program pembelajaran. Merancang dan Mengembangkan evaluasi sumatif (design and conduct summative evaluation).
Evaluasi sumatif merupakan jenis evaluasi yang berbeda dengan evaluasi
formatif. Evaluasi sumatif dilakukan setelah program selesai dievaluasi secara
formatif dan direvisi sesuai dengan standar yang digunakan oleh perancang.
D. JENIS
– JENIS MODEL PEMBELAJARAN
1.
Model
Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
Langkah-langkah
pembelajaran Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw adalah sebagai
berikut :
a.
Kelompok cooperative ( awal )
1.
Siswa dibagi kedalam kelompok kecil yang
beranggotakan 3 – 5 orang.
2.
Bagikan wacana atau tugas yang sesuai dengan
materi yang diajarkan
3.
Masing-masing siswa dalam kelompok
mendapatkan wacana / tugas yang berbeda-beda dan memahami informasi yang ada
didalamnya.
b.
Kelompok Ahli
1.
Kumpulkan masing-masing siswa yang memiliki
wacana / tugas yang sama dalam satu kelompok sehingga jumlah kelompok ahli
sesuai dengan wacana / tugas yang telah dipersiapakan oleh guru.
2.
Dalam kelompok ahli ini tugaskan agar siswa
belajar bersama untuk menjadi ahli sesuai dengan wacana / tugas yang menjadi
tanggung awabnya.
3.
Tugaskan bagi semua anggota kelompok ahli
untuk memahami dan dapat menyampaikan informasi tentang hasil dari wacana /
tugas yang telah dipahami kepada kelompok cooperative.
4.
Apabila tugas sudah selesai dikerjakan dalam
kelompok ahli masing-masing siswa kembali kelompok cooperative (awal)
5.
Beri kesempatan secara bergiliran
masing-masing siswa untuk menyampaikan hasil dari tugas di kelompok ahli.
6.
Apabila kelompok sudah menyelesaikan
tugasnya, secara keseluruhan masing-masing kelompok melaporkan hasilnya dan
guru memberi klarifikasi.
2.
Model Pembelajaran Kooperatif
Numberd Heads Together
Dikembangkan
oleh Spencer Kagan (1992) Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk
saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.
Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja
sama mereka. Teknik ini juga digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk
semua tingkatan usia anak didik.
Langkah-langkah
pembelajaran Model Pembelajaran Kooperatif Numberd Heads Together
sebagai berikut :
- Siswa dibagi dalam beberapa
kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor urut.
- Guru memberikan tugas dan
masing-masing kelompok mengerjakannya.
- Kelompok memutuskan jawaban
yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok
mengetahui jawaban ini.
- Guru memanggil salah satu nomor
siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.
- Tanggapan dari kelompok yang
lain
- Teknik Kepala Bernomor ini juga
dapat dilanjutkan untuk mengubah komposisi kelompok yang biasanya dan
bergabung dengan siswa-siswa lain yang bernomor sama dari kelompok lain.
3.
Model Pembelajaran Kooperatif
Group To Group Exchange
Model
pembelajaran Pertukaran Kelompok Mengajar ini, tugas yang berbeda
diberikan kepada kelompok peserta didik yang berbeda. Masing-masing kelompok
“mengajar” apa yang telah dipelajari untuk sisa kelas.
Langkah-langkah pembelajaran Model Pembelajaran
Kooperatif Group To Group Exchange sebagai berikut :
- Pilihlah sebuah topik yang
mencakup perbedaan ide, kejadian, posisi, konsep, pendekatan untuk
ditugaskan. Topik haruslah sesuatu yang mengembangkan sebuah pertukaran
pandangan atau informasi (kebalikan teknik debat)
- Bagilah kelas ke dalam beberapa
kelompok, jumlah kelompok sesuai jumlah tugas. Diusahakan tugas
masing-masing kelompok berbeda.
- Berikan cukup waktu untuk
berdiskusi dan mempersiapkan bagaimana mereka dapat menyajikan topik yang
telah mereka kerjakan.
- Bila diskusi telah selesai,
mintalah kelompok memilih seorang juru bicara. Undanglah setiap juru
bicara menyampaikan kepada kelompok lain.
- Setelah presentasi singkat,
doronglah peserta didik bertanya pada presenter atau tawarkan pandangan
mereka sendiri. Biarkan anggota juru bicara kelompok menanggapi.
- Lanjutkan sisa presentasi agar
setiap kelompok memberikan informasi dan merespon pertanyaan juga komentar
peserta. Bandingkan dan bedakan pandangan serta informasi yang saling
ditukar. Contoh: Seorang pengajar membandingkan dua negara yang telah
disepakati dengan menggunakan motede ini. Kelompok pertama membahas Costa
Rica (dikenal negara yang aman) dan kelompok lain membahas El Savador
(baru saja mengalami perang saudara). Setelah setiap kelompok
mempresentasikan kebudayaan dan sejarah negara yang telah ditetapkan,
diskusi diarahakan pada analisis “ mengapa dua negara tetangga tersebut
memiliki perbedaan pengalaman”
Adapun Variasi Model
pembelajaran Pertukaran Kelompok Mengajar dapat dilakukan dengan cara
- Mintalah setiap kelompok
melakukan penelitian ekstensif sebelum presentasi.
- Gunakan bentuk diskusi panel
atau fishbowl untuk masing-masing presentasi sub-kelompok.
4. Model Pembelajaran Kooperatif
Decision Making
Pemecahan masalah (problem solving) adalah
suatu bentuk cara belajar aktif yang mengembangkan kemampuan anak untuk
berfikir dan bertindak secara logis, kreatip dan krisis untuk memecahkan
masalah. Dalam Proses Belajar Mengajar masalah yang dikemukakan anak antara
lain dapat dipecahkan melalui diskusi, opservasi, klasifikasi, pengukuran,
penarikan kesimpulan serta pembuktian hipotesis. Pemecahan maslah sangat
penting diterapkan dan dipadukan dalam Proses Belajar Mengajar agar anak: dapat
mengembangkan cara berpikir memecahkan masalah yang dijumpai sehari-hari baik
dilingkungan terdekatnya maupun dilingkungan masyarakat yang lebih luas. Anak
juga Dibekali kemampuan menghadapi tantangan baru yang akan muncul dalam
kehidupannya dimasa depan sesuai dengan tanda-tanda jaman dan anak ibekali
kemampuan dasar bagaimana menanggapi masalah merumuskan masalah dan memilih
alternatif pemecahan secara tepat.
Menurut John Dewey
pengambilan keputusan (decision making) tidak jarang disamakan dengan berpikir
kritis, pemecahan masalah dengan berpikir logis serta berpikir replektif.
Berpikir kritis (critical thinking) untuk sampai suatu kesimpulan diawali
dengan pertanyaan dan pertimbangan kebenaran serta nilai apa yang sebenarnya
ada dalam pertanyaan itu.
Pemecahan
masalah (problem solving), untuk sampai pada kesimpulan diawali dengan masalah
yang dihadapi dan mempertanyakan bagaimana masalah itu dapat
diselesaikan/dipecahan.
Berpikir
logis (logical thingking) untuk sampai pada suatu kesimpulan yang diutamakan
adalah alur berpikirnya, mulai dari identifikasi, meramalkan, menganalisis
fakta dan opini serta verifikasi.
Ketiga ketrampilan berpikir
tersebut semuanya bermuara pada pengambilan keputusan untuk mendapatkan suatu
alternatif/pilihan yang kemudian ditindaklanjuti dalam bentuk tindakan. Dengan
demikian dalam pengambilan keputusan bukan semata-mata bertujuan untuk
memperoleh informasi atau pengetahuan, tetapi juga dilandasi oleh pertimbangan
secara nalar dan penilaian, tindakan yang diambil akan dapat
dipertanggungjawabkan.
Pengambilan
keputusan yang efektif membutuhkan ketrampilan mengumpulkan informasi tentang
suatu permasalahan, berpikir kritis dan kreatif.
Langkah-langkah Model
Pembelajaran Kooperatif Decision Making adalah sebagai berikut:
- Informasi tujuan dan Perumusan
masalah.
- Secara klasikal tayangkan
gambar, wacana atau kasus permasalahan yang sesuai dengan materi pelajaran
atau kompetensi yang diharapkan
- Buatlah pertanyaan agar siswa
dapat merumuskan permasalahan sesuai dengan gambar, wacana atau kasus yang
disajikan.
- Secara kelompok siswa diminta
mengidentifikasikan permasalahan dan membuat alternatif pemecahannya.
- Secara kelompok/individu siswa
diminta mengidentifikasi permasalahan yang terdapat dilingkungan sekitar
siswa yang sesuai dengan materi yang dibahas dan cara pemecahannya.
- Secara kelompok/individu siswa
diminta mengemukakan alasan mereka menilih alternatif tersebut.
- Secara kelompok/individu siswa
diminta mencari penyebab terjadinya masalah tersebut.
- Secara kelompok/individu siswa
diminta mengemukakan tindakan untuk mencegah terjadinya masalah tersebut.
5. Model Analisis Kasus
Ada
dua pertimbangan yang dijadikan landasan bahwa model pembelajaran analisis
kasus sangat penting dalam pengajaran PKn sebagai pendidikan nilai, moral,
norma yaitu pertama, dunia dan potensi serta proses afektual peserta didik
hanya dapat bergetar dan terlibatkan apabila ada media stimulus (perangsang)
yang menggetarkan. Kedua, proses afektual sukar terjadi melalui bahan ajar yang
konsepsional, teoritik dan normatif. Bahan ajar ini masih harus diolah dan
dimanipulasi oleh guru menjadi media stimulus afektif berkadar tinggi.
Langkah pembuatan dan
penggunaan model pembelajaran analisis kasus adalah sebagai berikut.
- Menganalisis standar
Kompetensi, Kompetensi Dasar yang akan dijarakan, kemudian tentukan
pencapaian target nilai-moral yang diharapkan melalui perumusan indikator
pembelajaran
- Membuat ceritera dari suatu
peristiwa yang pernah atau sering terjadi. Cerita tersebut mengandung
nilai-moral dilematis dan sesuai dengan target nilai-moral harapan
- Usahakan ceritera yang telah
disiapkan itu diperbanyak sejumlah siswa, sehingga semua siswa mempunyai
kesempatan yang sama untuk mempelajari ceritera tersebut.
- Pada saat pelaksanaan beri
kesempatan kepada siswa untuk membaca ceritera itu sekitar 3- 5 menit,
kemudian beberapa siswa diminta komentarnya terhadap materi ceritera itu.
6. Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Talking Chips
Talking
adalah sebuah kata yang diambil dari bahasa inggris yang berarti berbicara,
sedangkan chips yang berarti kartu. Jadi arti talking chips adalah kartu untuk
berbicara. Sedangkan talking chips dalam pembelajaran kooperatif yaitu
pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-5 orang,
masing-masing anggota kelompok membawa sejumlah kartu yang berfungsi untuk
menandai apabila mereka telah berpendapat dengan memasukkan kartu tersebut ke
atas meja. Model pembelajaran talking chips atau kancing gemerincing merupakan
salah satu model pembelajaran yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif.
7. Model Pembelajaran Penemuan
(Discovery Learning)
Metode
Discovery Learningadalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses
pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam
bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Sebagaimana pendapat
Bruner, bahwa: “Discovery Learning can be defined as the learning that takes
place when the student is not presented with subject matter in the final form,
but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun,
1986:103). Dasar ide Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa
anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas.
Bruner
memakai metode yang disebutnya Discovery Learning, dimana murid mengorganisasi
bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono, 1996:41). Metode
Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses
intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43).
Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses
mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan
melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi.
Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri
adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind
(Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219).
Berikut ini langkah-langkah
dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas.
- Langkah Persiapan Metode
Discovery Learning
1.
Menentukan tujuan pembelajaran.
2.
Melakukan identifikasi karakteristik siswapeserta
didik (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya).
3.
Memilih materi pelajaran
4.
Menentukan topik-topik yang harus dipelajari
siswapeserta didik secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi)
5.
Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa
contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari
siswapeserta didik
6.
Mengatur topik-topik pelajaran dari yang
sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif,
ikonik sampai ke simbolik.
7.
Melakukan penilaian proses dan hasil belajar
siswap eserta didik.
- Prosedur Aplikasi Metode
Discovery Learning
Menurut
Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning di kelas,ada
beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar
secara umum sebagai berikut:
8.
Model
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Problem
Based Learning (PBL) adalah kurikulum dan proses pembelajaran. Dalam
kurikulumnya, dirancang masalah-masalah yang menuntut peserta didik mendapat
pengetahuan penting, yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan
memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam
tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk
memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran
berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan
masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam
kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja
dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world).
Pembelajaran
berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang peserta
didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk
mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini
digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran
yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik
mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus
dipecahkan.
Model
pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan
berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh peserta
didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan peserta didik dalam
pencapaian materi pembelajaran.
Tujuan dan hasil dari model
pembelajaran berbasis masalah ini adalah:
- Keterampilan berpikir dan
keterampilan memecahkan masalah
- Pembelajaran berbasis masalah
ini ditujukan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
- Pemodelan peranan orang dewasa.
- Bentuk pembelajaran berbasis
masalah penting menjembatani gap antara pembelajaran sekolah formal dengan
aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah. Berikut
ini aktivitas-aktivitas mental di luar sekolah yang dapat dikembangkan.
- PBL mendorong kerjasama dalam
menyelesaikan tugas.
- PBL memiliki elemen-elemen
magang. Hal ini mendorong pengamatan dan dialog dengan yang lain sehingga
peserta didik secara bertahap dapat memi peran yang diamati tersebut.
- PBL melibatkan peserta didik
dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang memungkinkan mereka
menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun
femannya tentang fenomena itu.
- Belajar Pengarahan Sendiri
(self directed learning)
- Pembelajaran berbasis masalah
berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus dapat menentukan sendiri
apa yang harus dipelajari, dan dari mana informasi harus diperoleh, di
bawah bimbingan guru.
9. MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK/PROJECT
BASED LEARNING KONSEP/DEFINISI
Pembelajaran Berbasis Proyek(Project Based
Learning=PjBL)adalah metoda pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan
sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi,
sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.
Pembelajaran
Berbasis Proyekmerupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai
langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru
berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Pembelajaran Berbasis
Proyekdirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan
peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya.
Pembelajaran Berbasis
proyekmemiliki karakteristik sebagai berikut:
1.
peserta didik membuat keputusan tentang
sebuah kerangka kerja
2.
adanya permasalahan atau tantangan yang
diajukan kepada peserta didik
3.
peserta didik mendesain proses untuk
menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang
diajukan
4.
peserta didik secara kolaboratif
bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan
permasalahan
5.
proses evaluasi dijalankan secara kontinyu
6.
peserta didik secara berkala melakukan
refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan
7.
produk akhir aktivitas belajar akan
dievaluasi secara kualitatif, dan
8.
situasi pembelajaran sangat toleran terhadap
kesalahan dan perubahan.
9.
Peran instruktur atau guru dalam Pembelajaran
berbasis proyeksebaiknya sebagai fasilitator, pelatih, penasehat dan perantara
untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan daya imajinasi, kreasi dan
inovasi dari siswa.
Langkah-langkah Operasional
Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut.
1. Penentuanpertanyaan
mendasar (Start With the Essential Question).
Pembelajaran dimulai dengan
pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta
didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan
realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pengajar
berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.
2. Mendesain
perencanaan proyek (Design a Plan for the Project.
Perencanaan dilakukan
secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan emikian
peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut.
Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat
mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan
berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat
diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
3. Menyusun
jadwal (Create a Schedule)
Pengajar dan peserta didik
secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek.
Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan
proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa peserta didik agar
merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat
cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk
membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
4. Memonitor
peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the
Project)
Pengajar bertanggungjawab
untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan
proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada
setiap roses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas
peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang
dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.
5. Menguji
hasil (Assess the Outcome)
Penilaian dilakukan untuk
membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam
mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang
tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam
menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
6. Mengevaluasi
pengalaman (Evaluate the Experience)
Pada akhir proses
pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas
dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara
individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk
mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar
dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama
proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new
inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama
pembelajaran.
10. Model
Pembelajaran Group Investigation
Ide
model pembelajaran geroup investigation bermula dari perpsektif filosofis
terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan
atau teman. Pada tahun 1916, John Dewey, menulis sebuah buku Democracy and
Education (Arends, 1998).
Dalam
buku itu, Dewey menggagas konsep pendidikan, bahwa kelas seharusnya merupakan
cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang
kehidupan nyata.
Pemikiran
Dewey yang utama tentang pendidikan (Jacob, et al., 1996), adalah: (1) siswa
hendaknya aktif, learning by doing; (2) belajar hendaknya didasari motivasi
intrinsik; (3) pengetahuan adalah berkembang, tidak bersifat tetap; (4)
kegiatan belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa; (5)
pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan prinsip saling memahami dan
saling menghormati satu sama lain, artinya prosedur demokratis sangat penting;
(6) kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan dunia nyata.
Gagasan-gagasan Dewey
akhirnya diwujudkan dalam model group-investigation yang kemudian dikembangkan
oleh Herbert Thelen. Thelen menyatakan bahwa kelas hendaknya merupakan miniatur
demokrasi yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial antar pribadi (Arends,
1998). Model group-investigation memiliki enam langkah pembelajaran (Slavin,
1995), yaitu: (1) grouping (menetapkan jumlah anggota kelompok, menentukan sumber,
memilih topik, merumuskan permasalahan), (2) planning (menetapkan apa yang akan
dipelajari, bagaimana mempelajari, siapa melakukan apa, apa tujuannya), (3)
investigation (saling tukar informasi dan ide, berdiskusi, klarifikasi,
mengumpulkan informasi, menganalisis data, membuat inferensi), (4) organizing
(anggota kelompok menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan
penyaji, moderator, dan notulis), (5) presenting (salah satu kelompok
menyajikan, kelompok lain mengamati, mengevaluasi, mengklarifikasi, mengajukan
pertanyaan atau tanggapan), dan (6) evaluating (masing-masing siswa melakukan
koreksi terhadap laporan masing-masing berdasarkan hasil diskusi kelas, siswa
dan guru berkolaborasi mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan, melakukan penilaian
hasil belajar yang difokuskan pada pencapaian pemahaman.
Sistem sosial yang
berkembang adalah minimnya arahan guru, demokratis, guru dan siswa memiliki
status yang sama yaitu menghadapi masalah, interaksi dilandasi oleh
kesepakatan.
Prinsip
reaksi yang dikembangkan adalah guru lebih berperan sebagai konselor,
konsultan, sumber kritik yang konstruktif. Peran tersebut ditampilkan dalam
proses pemecahan masalah, pengelolaan kelas, dan pemaknaan perseorangan.
Peranan guru terkait
dengan proses pemecahan
masalah berkenaan dengan kemampuan meneliti apa hakikat dan fokus masalah.
Pengelolaan ditampilkan berkenaan dengan kiat menentukan informasi yang
diperlukan dan pengorganisasian kelompok untuk memperoleh informasi tersebut.
Pemaknaan perseorangan berkenaan dengan inferensi yang diorganisasi oleh
kelompok dan bagaimana membedakan kemampuan perseorangan.
Sarana pendukung model
pembelajaran ini adalah: lembaran kerja siswa, bahan ajar, panduan bahan ajar
untuk siswa dan untuk guru, peralatan penelitian yang sesuai, meja dan korsi
yang mudah dimobilisasi atau ruangan kelas yang sudah ditata untuk itu.
11. Model Pembelajaran Penelitian Jurisprudensial
Dasar
pemikiran model ini adalah terkait dengan konsepsi tentang masyarakat yang
memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda mengenai nilai sosial yang secara
hokum saling bertentangan satu sama lain. Untuk memecahkan masalah yang
kontroversial dalam konteks sosial yang produktif, setiap warga negara perlu
memiliki kemampuan untuk dapat berbicara kepada orang lain dan berhasil dengan
baik melakukan kesepakatan dengan orang lain. Setiap warga negara harus mampu
menganalisis secara cerdas dan mengambil contoh masalah soaial, yang paling
tepat pada hakikatnya berkenaan dengan konsep keadilan, hak azasi manusia yang memang
menjadi inti dari kehidupan demokrasi. Untuk dapat melakukan aktivitas
tersebut, diperlukan tiga kemampuan, yakni: (a) mengenal dengan baik
nilai-nilai yang berlaku dalam sistem hukum dan politik yang ada di lingkungan
negaranya, (b) memiliki seperangkat keterampilan untuk dapat digunakan dalam
menjernihkan dan memecahkan masalah nilai, (c) menguasai pengetahuan tentang
politik yang bersifat kontemporer yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan
negaranya.