Selamat datang di blog Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif

Selamat datang di blog Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif

Rabu, 22 Februari 2017

MODEL PEMBELAJARAN SOSIAL

Model pembelajaran simulasi sosial merupakan aplikasi dari prinsip-prinsip cybernetic (cabang dari psikologi). Psikologi cybernetic menganalogikan manusia sebagai suatu sistem kontrol yang menggerakkan jalannya tindakan dan membenarkan arah atau mengoreksi tindakan tersebut dengan pengertian umpan balik. Menurut psikologi cybernetic, tingkah laku manusia mencakup pola gerak yang dapat diamati baik berupa tingkah laku tak tampak seperti pikiran maupun tingkah laku tampak. Pada bermacam-macam situasi yang diberikan, individu memodifikasi tingkah laku sesuai dengan umpan balik yang mereka terima dari lingkungannya.
Esensi psikologi cybernetic adalah prinsip umpan balik yang berorientasi pada pendirian individual yang dirasakan merupakan dampak yang ditimbulkan dari keputusannya sendiri dan merupakan dasar untuk memperbaiki diri. Individu dapat merasakan pengaruh dari ketetapan yang diambilnya akibat dari pemenuhan kebutuhan lingkungan dari pada hanya mengatakan bahwa itu benar atau salah dan coba lagi. Hal ini merupakan konsekuansi lingkungan dari pilihannya yang dikembalikan kepadanya. Belajar dalam pengertian cybernetic adalah penginderaan tingkah laku individu yang mempunyai akibat pada lingkungan serta perbaikan diri. Pengajaran dalam pengertian sybernetic dirancang untuk menciptakan lingkungan bagi siswa dengan sitem umpan balik.
 Para ahli psikologi cybernetic menemukan bahwa simulasi pendidikan memungkinkan siswa belajar untuk pertama kalinya dari pengalaman yang disimulasikan dalam pembelajaran dari pada yang dijelaskan guru. Bagaimanapun juga besarnya ketertiban keterlibatan siswa, mungkin siswa masi belum siap mempelajari memahami apa yang mereka pelajari atau yang mereka almi. Dengan demikian, guru memegang peranan penting dalam menumbuhnkan kesadarab siswa tentang konsep dan prinsi-prinsip pendukung simulasi dan reaksi-reaksinya. Selain itu guru berperan sebagai pelaku fungsi pengatur. Dengan isu-isu dan permainan yang lebih komplek di dalam pembelajaran maka kegiatan guru lebih kritis.
Dengan demikian dalam menggunakan analogi sistem mekanik sebagai kerangka acuan untuk menganalisis manusia, psikolog datang dengan ide sentral "bahwa kinerja dan pembelajaran harus dianalisis dalam hal hubungan kontrol antara operator manusia dan situasi instrumental. "Artinya, belajar dipahami akan ditentukan oleh sifat individu, serta dengan desain situasi belajar.[20]
Jadi simulator adalah suatu alat yang merepresentasikan realitas, dimana kerumitas aktifitasnya dapat dikendalikan. Contoh simulator pilot pesawat terbang, simulator pengendara mobil dan lain-lain.[21] Aplikasinya bahwa simulasi dapat merangsang suatu pembelajaran tentang: (1) kompetisi, (2) kerjasama, (3) empati, (4) sistem sosial, (5) konsep, (6) keterampilan, (7) efikasi, (8) membayar hukuman, (9) peran kesempatan, dan (10) kemampuan untuk berpikir kritis (memeriksa strategi alternatif dan mengantisipasi orang lain)dan membuat keputusan.[22] Setelah mengetahui dan memahami alur model pembelajaran ini secara umum maka dirasa perlu membahas tentang prosedur atau hakikat model pembelajaran simulasi dalam proses pembelajaran.

Prosedur atau Hakikat Model Pembelajaran Simulasi Sosial

Sangat mudah untuk mengasumsikan bahwa karena kegiatan pembelajaran telah dirancang dan dikemas oleh para ahli, guru memiliki peran minimal untuk bermain dalam situasi belajar. Orang cenderung percaya bahwa permainan yang dirancang dengan baik akan mengajarkan sendiri.Tapi ini hanya sebagian benar. Psikolog Cybernetic menemukan bahwa simulasi pendidikanmemungkinkan siswa untuk belajar langsung dari pengalaman simulasi dibangun ke dalam permainan dan bukan dari penjelasan atau ceramah guru. Namun, karena keterlibatan intens mereka, siswa mungkin tidak selalu menyadari apa yang mereka pelajari dan alami. Dengan demikian guru memiliki peran penting untuk bermain dalam meningkatkan kesadaran siswa tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasari simulasi dan reaksi mereka sendiri.Selain itu, guru memiliki fungsi manajerial yang penting. Dengan permainan (game) yang lebih kompleks dan isu-isu, bahkan kegiatan guru adalah lebih penting jika terjadi untuk belajar.Bruce Joyce Marsha Weil mengidentifikasi empat peran guru dalam model simulasi yaitu: (1) menjelaskan (explaining) (2) mewasiti (refereeing), (3) melatih (coaching), dan (4) diskusi (Discussing).[23]
Menjelaskan (explaining). Untuk belajar dari simulasi, para pemain perlu memahami aturan-aturan yang cukup untuk melaksanakan sebagian besar kegiatan. Namun, tidak pentingbahwa siswa memiliki pemahaman yang lengkap dari simulasi di awal. Seperti dalamkehidupan nyata, banyak aturan menjadi relevan hanya sebagai kegiatan dilanjutkan.
Wasit (refereeing). Simulasi digunakan di dalam kelas yang dirancang untuk memberikan manfaat pendidikan. Guru harus mengontrol partisipasi siswa dalam permainan untuk memastikan bahwa simulasi ada manfaatnya dilakukan. Sebelum permainan ini dimainkan, guru harus menetapkan siswa untuk tim (jika permainan melibatkan teamwork),sesuai kemampuan individu dengan peran dalam simulasi untuk menjamin partisipasi aktifseluruh siswa. Siswa pemalu dan tegas, misalnya, harus dicampur dalam satu tim. Salah satuhal yang harus dihindari guru adalah hanya mengutamakan siswa yang aktif saja dan mengabaikan siswa yang fasif atau tidak memiliki pengetahuan akademis. Guru harusmenyadari terlebih dahulu situasi simulasi pembelajaran aktif dan dengan demikian memintakepada siswa untuk bebas berekspresi dan bebas serta aktif bicara dibanding dari kegiatan kelas lainnya. Guru harus bertindak sebagai wasit yang melihat aturan-aturan permainan dan lebih baik guru tidak terlibat dalam simulasi.
Melatih (coaching). Guru harus bertindak sebagai pelatih bila perlu memberikan nasihat atau petunjuk pemainan agar siswa bermain lebih baik. Sebagai seorang pelatih hendaknya bertindak sebagai seorang supervisor yang sportif bukan sebagai seorang yang otoriter. Dalam simulasi, pemain mungkin memiliki kesalahan-kesalah dan mengandung beberapa resiko dan guru dalam hal ini harus bersifat adil tidak memihak.
Mendiskusikan (Discussing). Setelah sesi simulasi selesai perlu ada diskusi, membisarakan bagaimana permainan simulasi dinyatakan dalam kehidupan sebenarnya, bagaimana tanggapan siswa, apa kesulitan-kesulitan yang dijumpai, dan hubungan apa yang dapat diungkapkan antara simulasi dan bahan yang dimaksudkan dalam simulasi yang dilaksanakan. Mungkin juga kelas mempunyai cara-cara yang baik untuk menguji kebenaran simulasi yang telah dilakukan.

Dalam pelaksanaannya model simulasi sosial sebagaimana dikemukakan oleh Joyce dan Weil (1986) mempunyai empat tahapan yaitu (1) orientasi), (2) partisipasi dalam latihan, (3) simulasi dan (4) pemantapan. Berikut tabel tahapan pelaksanaan model pembelajaran simulasi sosial.[24]

Mengapa dikatakan model pembelajaran sosial? Karena pendekatan pembelajaran yang termasuk dalam kategori model ini menekankan hubungan individu dengan masyarakat atau orang lain. Model-model dalam kategori ini difokuskan pada peningkatan kemampuan individu dalam berhubungan dengan orang lain, terlibat dalam proses demokratis dan bekerja secara produktif dalam masyarakat.

a.       Sintak (syntax) yang merupakan fase-fase (phasing) dari model yang menjelaskan model tersebut dalam pelaksanaannya secara nyata (Joyce dan Weil, 1986:14). Contohnya, bagaimana kegiatan pendahuluan pada proses pembelajaran dilakukan? Apa yang akan terjadi berikutnya?
b.      Sistem sosial (the social system) yang menunjukkan peran dan hubungan guru dan siswa selama proses pembelajaran. Kepemimpinan guru sangatlah bervariasi pada satu model dengan model lainnya. Pada satu model, guru berperan sebagai fasilitator namun pada model yang lain guru berperan sebagai sumber ilmu pengetahuan.
c.       Prinsip reaksi (principles of reaction) yang menunjukkan bagaimana guru memperlakukan siswa dan bagaimana pula ia merespon terhadap apa yang dilakukan siswanya. Pada satu model, guru memberi ganjaran atas sesuatu yang sudah dilakukan siswa dengan baik, namun pada model yang lain guru bersikap tidak memberikan penilaian terhadap siswanya, terutama untuk halhal yang berkait dengan kreativitas.
d.      Sistem pendukung (support system) yang menunjukkan segala sarana, bahan, dan alat yang dapat digunakan untuk mendukung model tersebut.


Rabu, 15 Februari 2017

KONSEP MODEL DAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN INOVATIF

1.         KONSEP MODEL PEMBELAJARAN
Istilah model diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari benda sesungguhnya, seperti globe adalah model dari bumi tempat kita hidup. Dalam konseks pembelajaran, Joyce dan Weil (Udin S.Winataputra, 2001) mendefinisikan model sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Jadi, model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Di dalam literatur ditemukan berbagai macam model pembelajaran. Beberapa diantara model pembelajaran tersebut diasumsikan dapat dimanfaatkan dalam melaksanakan pembelajaran IPS di SD. Untuk memilih/menentukan model pembelajaran yang sesuai untuk peserta didik pada jenjang pendidikan tertentu, perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik dan prinsip-prinsip belajar,(seperti kecepatan belajar, motivasi, minat, keaktivan siswa dan umpan balik/penguatan), serta yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa pemilihan model-model pembelajaran seyogianya berbasis pada pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada konsep pembelajaran mutakhir.
1.      Istilah “model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan.
2.      Pada pembelajaran istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Model berfungsi sebagai pedoman bagi pembelajar dalam merencanankan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran.
3.      Model dapat diartikan sebagai suatu pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, merancang dan menyampaikan materi, mengorganisasikan pebelajar, dan memilih media dan metode dalam suatu kondisi pembelajaran. Model menggambarkan tingkat terluas dari praktek pembelajaran dan berisikan orientasi filosofi pembelajaran, yang digunakan untuk menyeleksi dan menyusun strategi pengajaran, metode, keterampilan, dan aktivitas pebelajar untuk memberikan tekanan pada salah satu bagian pembelajaran (topik konten).

Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran :
1.         Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik.
2.         Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
3.         Langkah-langkah  mengajar yang duperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal.
4.         Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.

Komponen Model Pembelajaran
Berbicara lebih jauh tentang model pembelajaran ini, Joyce dan Weil (1986) mengemukakan beberapa key ideas yang perlu kita pahami sebagai komponen suatu model pembelajaran :
1.      Sintaks (Syntax) daripada model, yaitu langkah-langkah, fase-fase, atau urutan kegiatan pembelajaran. Jadi sintaks itu adalah deskripsi model dalam action. Setiap model mempunyai sintaks atau struktur model yang berbeda-beda
2.      Prinsip Reaksi (Principle of Reaction) yaitu reaksi pembelajar atas aktivitas-aktivitaspebelajar. Jadi prinsip reaksi itu akan membantu memilih reaksi-reaksi apa yang efektif dilakukan pebelajar.
3.      Sistem-Sosial (social system)
Sistem sosial ini mencakup, 3 (tiga) pengertian utama yaitu :
-          deskripsi rnacam-macam peranan pembelajar dan pebelajar
-          deskripsi hubungan hirarkis/ otoritas pembelajar dan pebelajar,
-          deskripsi macam-macam kaidah untuk mendorong pebelajar.
Sistem sosial sebagai unsur model agaknya kurang berstruktur dibandingkan dengan unsur sintaks.
4.      Sistem Pendukung (Support System)
Sistem pendukung ini sesungguhnya merupakan kondisi yang dibutuhkan oleh suatu model. Jadi, bukanlah model itu sendiri. Sistem pendukungnya bertolak dari pertanyaan-pertanyaan dukungan apa yang dibutuhkan oleh suatu model agar tercipta lingkungan khusus. Dalam hubungan ini, sistem pendukung itu berupa kemampuan/keterampilan dan fasilitas-fasilitas teknis. Sistem pendukung diturunkan dari dua sumber yaitu kekhususan-kekhususan peranan pembelajar dan tuntutan pebelajar.
Dalam proses pembelajaran umumnya membutuhkan transkrip atau deskripsi peristiwa pembelajaran bagi pengguna model-model tertentu. Di samping itu dibutuhkan pula analisis kesulitan pelajaran dan analisis kesulitan-kesulitan khusus penggunaan model. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa setiap model mempunyai kegunaan utama di samping kegunaan-kegunaan lainnya yang dapat diterima.
5.      Dampak instuksional (Instructional effects)
Dalam hal ini beberapa model didesain untuk tujuan-tujuan yang amat spesifik dan beberapa lainnya dapat dipergunakan secara umum. Penggunaan model manapun harus dapat memberi efek belajar bagi pebelajar. Efek belajar ini dapat berupa direct atauinstructional effects atau berupa indirectInstructional effects adalah pencapaian tujuan sebagai akibat kegiatan-kegiatan instruksional. Biasanya beberapa pengetahuan Biasanya beberapa pengetahuan/ketrampilan.
6.      Dampak Pengiring (nurturant effect)
nurturant effect adalah efek-efek pengiring yang ditimbulkan model karena pebelajar menghidupi (living in) sistem lingkungan belajar, misalnya kemampuan berpikir kreatif sikap terbuka dan sebagainya. Seorang pembelajar memiliki model atau strategipembelajaran karena ingin mencapai instructional effects dan nurturant effects

B.     PENGERTIAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN
Clarence Schauer menyebut pengembangan pembelajaran (pengembangan instruksional) sebagai perencanaan secara akal sehat untuk mengidentifikasikan masalah belajar dan mengusahakan pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan suatu rencana terhadap pelaksanaan, evaluasi, uji coba, umpan balik, dan hasilnya. Twelker, Urbach, dan Buck mendefinisikan pengembangan pembelajaran sebagai cara yang sistematik untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi satu set bahan dan strategi belajar dengan maksud mencapai tujuan tertentu. Suparman menyebut pengembangan pembelajaran sebagai suatu proses yang sistematik meliputi identifikasi masalah, pengembangan strategi dan bahan instruksional, serta evaluasi terhadap strategi dan bahan instruksional dalam mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien (Suparman, 1991).
Berdasarkan beberapa pengertian para ahli maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan pembelajaran adalah serangkaian proses yang dilakukan untuk menghasilkan suatu sistem pembelajaran.
Model pengembangan pembelajaran yang dikembangkan oleh Dick & Carey telah lama digunakan untuk menciptakan program pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik. Model yang dikembangkan didasarkan pada penggunaan pendekatan sistem terhadap komponen-komponen dasar dari desain sistem pembelajaran yang meliputi analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi (Benny, 2010).
Menurut pendekatan model Dick & Carey dalam Trianto (2010) terdapat beberapa komponen yang akan dilewati dalam proses pengembangan dan perancangan pembelajaran yang berupa urutan langkah-langkah sebagai berikut: 
1.      Identifikasi tujuan (identity instructional goals).
Tahap awal model ini adalah menentukan apa yang diinginkan agar siswa dapat melakukannya ketika mereka telah menyelesaikan program pengajaran. Definisi tujuan pengajaran mengacu pada kurikulum tertentu atau juga berasal dari daftar tujuan sebagai hasil need analysis, atau dari pengalaman praktek dengan kesulitan belajar siswa di dalam kelas. 
2.      Melakukan analisis instruksional (conducting a goal analysis).
Setelah mengidentifikasi tujuan pembelajaran, maka akan ditentukan apa tipe belajar yang dibutuhkan siswa. Tujuan yang dianalisis untuk mengidentifikasi keterampilan yang lebih khusus lagi yang harus dipelajari. Dalam melakukan analisis instruksional kompetensi yang diharapkan berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Analisis ini akan menghasilkan chart atau diagram tentang keterampilan-keterampilan/konsep dan menunjukkan keterkaitan antara keterampilan/konsep tersebut. 
3.      Mengidentifikasi tingkah laku awal/karakteristik siswa (identity entry behaviours, characteristic).
Ketika melakukan analisis terhadap keterampilan-keterampilan yang perlu dilatihkan dan tahapan prosedur yang perlu dilewati, juga harus dipertimbangkan keterampilan apa yang telah dimiliki siswa saat mulai mengikuti pengajaran. Yang penting juga untuk diidentifikasi adalah karakteristik khusus siswa yang mungkin ada hubungannya dengan rancangan aktivitas-aktivitas pengajaran. 
4.      Merumuskan tujuan kinerja (write performance objectives).
Berdasarkan analisis instruksional dan pernyataan tentang tingkah laku awal siswa, selanjutnya akan dirumuskan pernyataan khusus tentang apa yang harus dilakukan siswa setelah menyelesaikan pembelajaran. 
5.      Pengembangan tes acuan patokan (developing criterian-referenced test items).
Pengembangan tes acuan patokan didasarkan pada tujuan yang telah dirumuskan, pengembangan butir assesmen untuk mengukur kemampuan siswa seperti yang diperkirakan dalam tujuan. 
6.      Pengembangan strategi pengajaran (develop instructional strategy).
Informasi dari lima tahap sebelumnya, maka selanjutnya akan mengidentifikasi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan akhir. Strategi akan meliputi aktivitas prainstruksional, penyampaian informasi, dan praktek. 
7.      Pengembangan atau memilih pengajaran (develop and select instructional materials).
Tahap ini akan digunakan strategi pengajaran untuk menghasilkan pengajaran/bahan ajar yang akan digunakan. 
8.      Merancang dan melaksanakan evaluasi formatif (design and conduct formative evaluation).
Evaluasi dilakukan untuk mengumpulkan data yang akan digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan program pembelajaran. Hasil dari evaluasi formatif dapat digunakan sebagai masukan atau input untuk memperbaiki draft program. 
9.      Menulis perangkat  (design and conduct summative evaluation).
Hasil-hasil pada tahap di atas dijadikan dasar untuk menulis perangkat yang dibutuhkan. Hasil perangkat selanjutnya divalidasi dan diujicobakan di kelas/diimplementasikan di kelas. 
10.  Revisi pengajaran (instructional revitions).
Data yang diperoleh dari prosedur evaluasi formatif dirangkum dan ditafsirkan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh program pembelajaran.  Merancang dan Mengembangkan evaluasi sumatif (design and conduct summative evaluation). Evaluasi sumatif merupakan jenis evaluasi yang berbeda dengan evaluasi formatif. Evaluasi sumatif dilakukan setelah program selesai dievaluasi secara formatif dan direvisi sesuai dengan standar yang digunakan oleh perancang.
D.    JENIS – JENIS MODEL PEMBELAJARAN
1.      Model  Pembelajaran Kooperatif  Jigsaw
Langkah-langkah pembelajaran Model  Pembelajaran Kooperatif  Jigsaw adalah sebagai berikut :
a.       Kelompok cooperative ( awal )
1.      Siswa dibagi kedalam kelompok kecil yang beranggotakan 3 – 5 orang.
2.      Bagikan wacana atau tugas yang sesuai dengan materi yang diajarkan
3.      Masing-masing siswa dalam kelompok mendapatkan wacana / tugas yang berbeda-beda dan memahami informasi yang ada didalamnya.
b.      Kelompok Ahli
1.      Kumpulkan masing-masing siswa yang memiliki wacana / tugas yang sama dalam satu kelompok sehingga jumlah kelompok ahli sesuai dengan wacana / tugas yang telah dipersiapakan oleh guru.
2.      Dalam kelompok ahli ini tugaskan agar siswa belajar bersama untuk menjadi ahli sesuai dengan wacana / tugas yang menjadi tanggung awabnya.
3.      Tugaskan bagi semua anggota kelompok ahli untuk memahami dan dapat menyampaikan informasi tentang hasil dari wacana / tugas yang telah dipahami kepada kelompok cooperative.
4.      Apabila tugas sudah selesai dikerjakan dalam kelompok ahli masing-masing siswa kembali kelompok cooperative (awal)
5.      Beri kesempatan secara bergiliran masing-masing siswa untuk menyampaikan hasil dari tugas di kelompok ahli.
6.      Apabila kelompok sudah menyelesaikan tugasnya, secara keseluruhan masing-masing kelompok melaporkan hasilnya dan guru memberi klarifikasi.
2.       Model  Pembelajaran Kooperatif  Numberd Heads Together
Dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992) Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Teknik ini juga digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Langkah-langkah pembelajaran Model  Pembelajaran Kooperatif  Numberd Heads Together sebagai berikut :
  1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor urut.
  2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
  3. Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.
  4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.
  5. Tanggapan dari kelompok yang lain
  6. Teknik Kepala Bernomor ini juga dapat dilanjutkan untuk mengubah komposisi kelompok yang biasanya dan bergabung dengan siswa-siswa lain yang bernomor sama dari kelompok lain.
3.       Model  Pembelajaran Kooperatif  Group To Group Exchange
Model pembelajaran Pertukaran Kelompok Mengajar ini,  tugas yang berbeda diberikan kepada kelompok peserta didik yang berbeda. Masing-masing kelompok “mengajar” apa yang telah dipelajari untuk sisa kelas.

Langkah-langkah pembelajaran Model  Pembelajaran Kooperatif  Group To Group Exchange sebagai berikut :
  1. Pilihlah sebuah topik yang mencakup perbedaan ide, kejadian, posisi, konsep, pendekatan untuk ditugaskan. Topik haruslah sesuatu yang mengembangkan sebuah pertukaran pandangan atau informasi (kebalikan teknik debat)
  2. Bagilah kelas ke dalam beberapa kelompok, jumlah kelompok sesuai jumlah tugas. Diusahakan tugas masing-masing kelompok berbeda.
  3. Berikan cukup waktu untuk berdiskusi dan mempersiapkan bagaimana mereka dapat menyajikan topik yang telah mereka kerjakan.
  4. Bila diskusi telah selesai, mintalah kelompok memilih seorang juru bicara. Undanglah setiap juru bicara menyampaikan kepada kelompok lain.
  5. Setelah presentasi singkat, doronglah peserta didik bertanya pada presenter atau tawarkan pandangan mereka sendiri. Biarkan anggota juru bicara kelompok menanggapi.
  6. Lanjutkan sisa presentasi agar setiap kelompok memberikan informasi dan merespon pertanyaan juga komentar peserta. Bandingkan dan bedakan pandangan serta informasi yang saling ditukar. Contoh: Seorang pengajar membandingkan dua negara yang telah disepakati dengan menggunakan motede ini. Kelompok pertama membahas Costa Rica (dikenal negara yang aman) dan kelompok lain membahas El Savador (baru saja mengalami perang saudara). Setelah setiap kelompok mempresentasikan kebudayaan dan sejarah negara yang telah ditetapkan, diskusi diarahakan pada analisis “ mengapa dua negara tetangga tersebut memiliki perbedaan pengalaman”
Adapun Variasi Model pembelajaran Pertukaran Kelompok Mengajar dapat dilakukan dengan cara
  1. Mintalah setiap kelompok melakukan penelitian ekstensif sebelum presentasi.
  2. Gunakan bentuk diskusi panel atau fishbowl untuk masing-masing presentasi sub-kelompok.
4.      Model  Pembelajaran Kooperatif  Decision Making
Pemecahan masalah (problem solving) adalah suatu bentuk cara belajar aktif yang mengembangkan kemampuan anak untuk berfikir dan bertindak secara logis, kreatip dan krisis untuk memecahkan masalah. Dalam Proses Belajar Mengajar masalah yang dikemukakan anak antara lain dapat dipecahkan melalui diskusi, opservasi, klasifikasi, pengukuran, penarikan kesimpulan serta pembuktian hipotesis. Pemecahan maslah sangat penting diterapkan dan dipadukan dalam Proses Belajar Mengajar agar anak: dapat mengembangkan cara berpikir memecahkan masalah yang dijumpai sehari-hari baik dilingkungan terdekatnya maupun dilingkungan masyarakat yang lebih luas. Anak juga Dibekali kemampuan menghadapi tantangan baru yang akan muncul dalam kehidupannya dimasa depan sesuai dengan tanda-tanda jaman dan anak ibekali kemampuan dasar bagaimana menanggapi masalah merumuskan masalah dan memilih alternatif pemecahan secara tepat.

Menurut John Dewey pengambilan keputusan (decision making) tidak jarang disamakan dengan berpikir kritis, pemecahan masalah dengan berpikir logis serta berpikir replektif. Berpikir kritis (critical thinking) untuk sampai suatu kesimpulan diawali dengan pertanyaan dan pertimbangan kebenaran serta nilai apa yang sebenarnya ada dalam pertanyaan itu.
Pemecahan masalah (problem solving), untuk sampai pada kesimpulan diawali dengan masalah yang dihadapi dan mempertanyakan bagaimana masalah itu dapat diselesaikan/dipecahan.
Berpikir logis (logical thingking) untuk sampai pada suatu kesimpulan yang diutamakan adalah alur berpikirnya, mulai dari identifikasi, meramalkan, menganalisis fakta dan opini serta verifikasi.
Ketiga ketrampilan berpikir tersebut semuanya bermuara pada pengambilan keputusan untuk mendapatkan suatu alternatif/pilihan yang kemudian ditindaklanjuti dalam bentuk tindakan. Dengan demikian dalam pengambilan keputusan bukan semata-mata bertujuan untuk memperoleh informasi atau pengetahuan, tetapi juga dilandasi oleh pertimbangan secara nalar dan penilaian, tindakan yang diambil akan dapat dipertanggungjawabkan.
Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan ketrampilan mengumpulkan informasi tentang suatu permasalahan, berpikir kritis dan kreatif.
Langkah-langkah Model  Pembelajaran Kooperatif  Decision Making adalah sebagai berikut:
  1. Informasi tujuan dan Perumusan masalah.
  2. Secara klasikal tayangkan gambar, wacana atau kasus permasalahan yang sesuai dengan materi pelajaran atau kompetensi yang diharapkan
  3. Buatlah pertanyaan agar siswa dapat merumuskan permasalahan sesuai dengan gambar, wacana atau kasus yang disajikan.
  4. Secara kelompok siswa diminta mengidentifikasikan permasalahan dan membuat alternatif pemecahannya.
  5. Secara kelompok/individu siswa diminta mengidentifikasi permasalahan yang terdapat dilingkungan sekitar siswa yang sesuai dengan materi yang dibahas dan cara pemecahannya.
  6. Secara kelompok/individu siswa diminta mengemukakan alasan mereka menilih alternatif tersebut.
  7. Secara kelompok/individu siswa diminta mencari penyebab terjadinya masalah tersebut.
  8. Secara kelompok/individu siswa diminta mengemukakan tindakan untuk mencegah terjadinya masalah tersebut.
5.      Model Analisis Kasus
Ada dua pertimbangan yang dijadikan landasan bahwa model pembelajaran analisis kasus sangat penting dalam pengajaran PKn sebagai pendidikan nilai, moral, norma yaitu pertama, dunia dan potensi serta proses afektual peserta didik hanya dapat bergetar dan terlibatkan apabila ada media stimulus (perangsang) yang menggetarkan. Kedua, proses afektual sukar terjadi melalui bahan ajar yang konsepsional, teoritik dan normatif. Bahan ajar ini masih harus diolah dan dimanipulasi oleh guru menjadi media stimulus afektif berkadar tinggi.
Langkah pembuatan dan penggunaan model pembelajaran analisis kasus adalah  sebagai berikut.
  1. Menganalisis standar Kompetensi, Kompetensi Dasar  yang akan dijarakan, kemudian tentukan pencapaian target nilai-moral yang diharapkan melalui perumusan indikator pembelajaran
  2. Membuat ceritera dari suatu peristiwa yang pernah atau sering terjadi. Cerita tersebut mengandung nilai-moral dilematis dan sesuai dengan target nilai-moral  harapan
  3. Usahakan ceritera yang telah disiapkan itu diperbanyak sejumlah siswa, sehingga semua siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk mempelajari ceritera tersebut.
  4. Pada saat pelaksanaan beri kesempatan kepada siswa untuk membaca ceritera itu sekitar 3- 5 menit, kemudian beberapa siswa diminta komentarnya terhadap materi ceritera itu.
6.      Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Chips
Talking adalah sebuah kata yang diambil dari bahasa inggris yang berarti berbicara, sedangkan chips yang berarti kartu. Jadi arti talking chips adalah kartu untuk berbicara. Sedangkan talking chips dalam pembelajaran kooperatif yaitu pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-5 orang, masing-masing anggota kelompok membawa sejumlah kartu yang berfungsi untuk menandai apabila mereka telah berpendapat dengan memasukkan kartu tersebut ke atas meja. Model pembelajaran talking chips atau kancing gemerincing merupakan salah satu model pembelajaran yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif.

7.      Model Pembelajaran Penemuan   (Discovery Learning)
Metode Discovery Learningadalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Sebagaimana pendapat Bruner, bahwa: “Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form, but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun, 1986:103). Dasar ide Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas.
Bruner memakai metode yang disebutnya Discovery Learning, dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono, 1996:41). Metode Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219).
Berikut ini langkah-langkah dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas.
  • Langkah Persiapan Metode Discovery Learning
1.      Menentukan tujuan pembelajaran.
2.      Melakukan identifikasi karakteristik siswapeserta didik (kemampuan awal, minat, gaya  belajar, dan sebagainya).
3.      Memilih materi pelajaran
4.      Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswapeserta didik secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi)
5.      Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi,  tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswapeserta didik
6.      Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik.
7.      Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswap eserta didik.
  • Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning
Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning di kelas,ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut:
8.      Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Problem Based Learning (PBL) adalah kurikulum dan proses pembelajaran. Dalam kurikulumnya, dirancang masalah-masalah yang menuntut peserta didik mendapat pengetahuan penting, yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world).
Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan.
Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran.

Tujuan dan hasil dari model pembelajaran berbasis masalah ini adalah:
  1. Keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah
  2. Pembelajaran berbasis masalah ini ditujukan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
  3. Pemodelan peranan orang dewasa.
  4. Bentuk pembelajaran berbasis masalah penting menjembatani gap antara pembelajaran sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah. Berikut ini aktivitas-aktivitas mental di luar sekolah yang dapat dikembangkan.
  5. PBL mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas.
  6. PBL memiliki elemen-elemen magang. Hal ini mendorong pengamatan dan dialog dengan yang lain sehingga peserta didik secara bertahap dapat memi peran yang diamati tersebut.
  7. PBL melibatkan peserta didik dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun femannya tentang fenomena itu.
  8. Belajar Pengarahan Sendiri (self directed learning)
  9. Pembelajaran berbasis masalah berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus dapat menentukan sendiri apa yang harus dipelajari, dan dari mana informasi harus diperoleh, di bawah bimbingan guru.
9.      MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK/PROJECT BASED LEARNING KONSEP/DEFINISI
Pembelajaran Berbasis Proyek(Project Based Learning=PjBL)adalah metoda pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.
Pembelajaran Berbasis Proyekmerupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Pembelajaran Berbasis Proyekdirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya.
Pembelajaran Berbasis proyekmemiliki karakteristik sebagai berikut:
1.      peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja
2.      adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik
3.      peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau     tantangan yang diajukan
4.      peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan
5.      proses evaluasi dijalankan secara kontinyu
6.      peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan
7.      produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif, dan
8.      situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.
9.      Peran instruktur atau guru dalam Pembelajaran berbasis proyeksebaiknya sebagai fasilitator, pelatih, penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan daya imajinasi, kreasi dan inovasi dari siswa.
Langkah-langkah Operasional Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut.
1.      Penentuanpertanyaan mendasar (Start With the Essential Question).
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.
2.      Mendesain perencanaan proyek (Design a Plan for the Project.
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan  emikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta  mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
3.      Menyusun jadwal (Create a Schedule)
Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
4.      Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)
Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang  penting.
5.      Menguji hasil (Assess the Outcome)
Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
6.      Mengevaluasi pengalaman (Evaluate the Experience)
Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

10.  Model Pembelajaran Group Investigation
Ide model pembelajaran geroup investigation bermula dari perpsektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan atau teman. Pada tahun 1916, John Dewey, menulis sebuah buku Democracy and Education (Arends, 1998).

Dalam buku itu, Dewey menggagas konsep pendidikan, bahwa kelas seharusnya merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata.

Pemikiran Dewey yang utama tentang pendidikan (Jacob, et al., 1996), adalah: (1) siswa hendaknya aktif, learning by doing; (2) belajar hendaknya didasari motivasi intrinsik; (3) pengetahuan adalah berkembang, tidak bersifat tetap; (4) kegiatan belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa; (5) pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain, artinya prosedur demokratis sangat penting; (6) kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan dunia nyata.

Gagasan-gagasan Dewey akhirnya diwujudkan dalam model group-investigation yang kemudian dikembangkan oleh Herbert Thelen. Thelen menyatakan bahwa kelas hendaknya merupakan miniatur demokrasi yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial antar pribadi (Arends, 1998). Model group-investigation memiliki enam langkah pembelajaran (Slavin, 1995), yaitu: (1) grouping (menetapkan jumlah anggota kelompok, menentukan sumber, memilih topik, merumuskan permasalahan), (2) planning (menetapkan apa yang akan dipelajari, bagaimana mempelajari, siapa melakukan apa, apa tujuannya), (3) investigation (saling tukar informasi dan ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi, menganalisis data, membuat inferensi), (4) organizing (anggota kelompok menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan penyaji, moderator, dan notulis), (5) presenting (salah satu kelompok menyajikan, kelompok lain mengamati, mengevaluasi, mengklarifikasi, mengajukan pertanyaan atau tanggapan), dan (6) evaluating (masing-masing siswa melakukan koreksi terhadap laporan masing-masing berdasarkan hasil diskusi kelas, siswa dan guru berkolaborasi mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan, melakukan penilaian hasil belajar yang difokuskan pada pencapaian pemahaman.
Sistem sosial yang berkembang adalah minimnya arahan guru, demokratis, guru dan siswa memiliki status yang sama yaitu menghadapi masalah, interaksi dilandasi oleh kesepakatan.
Prinsip reaksi yang dikembangkan adalah guru lebih berperan sebagai konselor, konsultan, sumber kritik yang konstruktif. Peran tersebut ditampilkan dalam proses pemecahan masalah, pengelolaan kelas, dan pemaknaan perseorangan. Peranan guru terkait

dengan proses pemecahan masalah berkenaan dengan kemampuan meneliti apa hakikat dan fokus masalah. Pengelolaan ditampilkan berkenaan dengan kiat menentukan informasi yang diperlukan dan pengorganisasian kelompok untuk memperoleh informasi tersebut. Pemaknaan perseorangan berkenaan dengan inferensi yang diorganisasi oleh kelompok dan bagaimana membedakan kemampuan perseorangan.
Sarana pendukung model pembelajaran ini adalah: lembaran kerja siswa, bahan ajar, panduan bahan ajar untuk siswa dan untuk guru, peralatan penelitian yang sesuai, meja dan korsi yang mudah dimobilisasi atau ruangan kelas yang sudah ditata untuk itu.

11.  Model Pembelajaran Penelitian Jurisprudensial

Dasar pemikiran model ini adalah terkait dengan konsepsi tentang masyarakat yang memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda mengenai nilai sosial yang secara hokum saling bertentangan satu sama lain. Untuk memecahkan masalah yang kontroversial dalam konteks sosial yang produktif, setiap warga negara perlu memiliki kemampuan untuk dapat berbicara kepada orang lain dan berhasil dengan baik melakukan kesepakatan dengan orang lain. Setiap warga negara harus mampu menganalisis secara cerdas dan mengambil contoh masalah soaial, yang paling tepat pada hakikatnya berkenaan dengan konsep keadilan, hak azasi manusia yang memang menjadi inti dari kehidupan demokrasi. Untuk dapat melakukan aktivitas tersebut, diperlukan tiga kemampuan, yakni: (a) mengenal dengan baik nilai-nilai yang berlaku dalam sistem hukum dan politik yang ada di lingkungan negaranya, (b) memiliki seperangkat keterampilan untuk dapat digunakan dalam menjernihkan dan memecahkan masalah nilai, (c) menguasai pengetahuan tentang politik yang bersifat kontemporer yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan negaranya.