A. KONSEP DASAR
INOVATIF
Pembelajaran
inovatif adalah pembelajaran yang mengandung muatan pembaharuan, pembelajaran
ini semakin populer ketika para pendidik menyadari bahwa dinamika masyarakat
semakin hari semakin tumbuh dan berkembang, seirama tumbuh dan berkembangnya
teknologi komunikasi pembelajaran. Kalau dulu sumber pembelajaran satu-satunya
adalah guru, dan karena itu guru dianggap sebagai tokoh sentral dalam kelas,
maka kini anggapan itu telah berubah, guru bukan lagi satu-satunya, bahkan
boleh jadi dalam beberapa hal peserta didik menjadi sumber pertama dan
utama dalam kelas.
Dengan
demikian pemebelajaran inovatif muncul sebagai akibat seseorang merasakan
adanya anomali atau krisis pada paradigma yang dianutnya dalam memecahkan
masalah belajar. Oleh sebab itu, dibutuhkan paradigma baru yang diyakini mampu
memecahkan masalah, beberapa diantara paradigma tersebut melahirkan beberapa
teori yang mendasari pembelajaran inovatif seperti teori Kognitif bahwa belajar
itu terjadi dalam organisme manusia melalui proses yang bermakna yang
menghubungkan peristiwa atau butir baru pada aspek kognitif yang ada.
Selanjutnya teori Humanistik atau Teori Sosial yang menyebut bahwa Proses
belajar tidak hanya terjadi karena seseorang mendapatkan stimulus dari
lingkungannya dan meresponnya tetapi terjadi pula karena pelaku belajar
berkomunikasi dengan individu lainnya, terakhir adalah teori Gestalt yang
menekankan bahwa proses belajar tidak terpisahkan tetapi merupakan totalitas
dalam membentuk medan belajar.
B. MANFAAT PEMBELAJARAN INOVATIF
1. Melatih siswa untuk
mendesain suatu penemuan
Pembelajaran inovatif melatih siswa untuk berpikir
kreatif sehingga siswa mampu memunculkan ide-ide baru yang positif. Di dalam
pembelajaran ini siswa dapat mengembangkan kreatifitasnya, sehingga bisa
menemukan hal-hal baru di era globalisasi ini.
2. Menuntut kreatifitas guru
dalam mengajar
Dalam hal ini guru dituntut untuk tidak monoton,
maksudnya guru harus memunculkan inovasi-inovasi baru dalam proses
pembelajaran. Kreatifitas guru sangat diperlukan agar proses pembelajaran tidak
membosankan.
3. Hubungan antara siswa dan
guru menjadi hubungan yang saling belajar dan saling membangun
Guru dan siswa bersama-sama membangun suasana
pembelajaran yang menyenangkan dalam kelas sehingga apa yang menjadi tujuan
dari pembelajaran bias terwujud.
4. Merangsang perkembangan
kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat
Pembelajaran inovatif akan membuat siswa berfikir
kritis dalam menghadapi masalah.
5. Dapat membuat pendidikan
sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja
Dunia pendidikan akan lebih berwarna, tidak monoton
dan akan terus berkembang menjadi semakin baik. Hal ini akan mempengaruhi dunia
kerja yang nantinya akan dijalani setiap orang.
6. Proses pembelajaran
dirancang, disusun, dan dikondisikan untuk siswa agar belajar
Siswa harus bisa menempatkan diri dengan baik, siswa
tidak boleh hanya diam tapi harus merusaha memotivasi dirinya sendiri agar
berkembang. Pembelajaran inovatif akan membangkitkan semangat siswa untuk
menjadi yang terbaik.
C. Tantangan dalam Pengembangan Pembelajaran Inovatif
1. Faktor Input
a. Halangan untuk berubah dari lingkungannya
Lingkungan
yang menjadi penghalang untuk terjadi perubahan /inovasi, bisa berupa
lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Yang berkaitan dengan lingkungan fisik
adalah tidak tersedianya sarana dan prasarana untuk berinovasi. Hal ini
terbentur dengan dana untuk pengadaan sarana dan prasarana dalam rangka
menunjang kegiatan/program inovasi. Kegiatan inovasi sangat berkaitan erat
dengan teknologi informasi dan komunikasi, yang saat ini merupakan tuntutan
mutlak dalam pemecahan permasalan hidup, termasuk di dalamnya masalah
pendidikan. Pemerintah Singapura meyakini bahwa sepuluh tahun atau lima tahun
yang akan datang, orang yang tidak menguasai komputer dan internet, akan
menjadi dinosaurus yang punah karena kalah dalam persaingan dunia kerja dengan
teknologi tinggi. Maka pendidikan di Singapura telah menempatkan teknologi
informasi sebagai prioritas pendidikan.
Lingkungan
sosial adalah manusianya sebagai agen perubahan. Di kala kita melakukan program
inovasi ada sementara orang lain yang mencibir melihat kegiatan inovasi yang
kita lakukan, seraya berucap apa-apaan. Bahkan ada orang yang mengatakan untuk
apa kita susah-susah berinovasi kalau penghasilan tetap sama dengan orang yang
diam (konservatif) dengan membuat akronim PGPS (Pinter Goblog Penghasilan
Sama). Keadaan yang demikianlah yang dapat menghalangi untuk terjadinya sebuah
perubahan. Kalau keadaan yang demikian tidak bisa diubah maka tidak akan
terjadi progress dalam dunia
pendidikan di negeri ini.
b. Ketidakterampilan agen pembaharu;
Agen
pembaharu kurang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga menyebabkan
kemunduran dalam bidang pendidikan. Kita selalu menyerahkan studi ilmu
pengetahuan dan teknologi kepada orang lain dan membuat kita tergantung pada
orang lain.
Di dalam
abad modern, masalah kehidupan manusia tidak dapat dipecahkan kecuali dengan
upaya pengembangan ilmiah, dan kunci untuk sukses di dalam seluruh urusan harus
bersandar pada ilmu. Karena itu adalah kewajiban bagi para guru dan tenaga
kependidikan untuk meraih pengetahuan teknik dan ilmiah yang lengkap dan
mutahir.
Ketidakterampilan
agen pembaharu dalam pendidikan tak lain dan tak bukan karena dihasilkan oleh
sistem pendidikan nasional yang tidak baik.
c. Inovasi yang bepusat hanya pada seseorang;
Reformasi
di bidang pendidikan ditandai dengan terjadinya pergeseran paradigma
pengelolaan dan pembinaan pendidikan dari centalized
system menuju decentralized system
yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Namun reformasi ini belum
begitu dapat dirasakan, hal ini dikarenakan sistem sentralistik yang telah
bercokol lama dalam sistem pendidkan nasional kita. Sehingga kreatifitas
berinovasi guru atau tenaga kependidikan kita belum terbangun dalam pendidikan.
Sehingga inovasi hanya berpusat pada segelintir orang.
d. Sensitivitas dan defensiveness
guru-guru/tenaga kependidikan
Guru
tidak merasa terpanggil untuk memajukan pendidikan, maka dari itu tidak mau
melakukan inovasi dalam pendidikan. Metode pembelajaran yang dipakai dari tahun
ke tahun itu-itu saja.
e. Ketiadaan kalangan (linking pin) agen perubahan.
Agen
perubahan berdiri sendiri-sendiri, tidak membentuk jaringan agen perubahan.
Sehingga untuk membangun sebuah inovasi terhambat. Sebuah kegiatan yang
terorganisir akan lebih efektif dibanding dengan yang tidak terorganisir.
f. Ketidaksesuaian antara teori dan praktik;
Sebuah
program inovasi dilakukan adalah untuk efektifitas dan efisiensi dalam
pencapaian program. Demikian halnya dengan inovasi pendidikan, adalah dilakukan
dengan tujuan optimalisasi proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran hal
lain yang perlu memperoleh perhatian dalam praktik pendidikan tentang
pemberdayaan siswa.
Menurut
Sastraprateja pemberdayaan dalam konteks pendidikan meliputi tiga kekuatan
yaitu power to adalah kekuatan yang
membuat seseorang melalukan sesuatu, power
with, kekuatan bersama agar peserta didik membangun solidaritas atas dasar
komitmen terhadap tujuan, dan power
within, kekuatan spiritual.
Ketika
proses pembelajaran terpaku pada salah satu di antara ketiga kekuatan tersebut
maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan. Proses pembelajaran yang hanya
mengarahkan peserta didik kepada power to
saja, hanya akan melahirkan siswa cerdas tetapi tidak berwawasan.
g. Inovasi yang digulirkan kurang ilmiah dan kurang hasil
kajian.
Dalam
melakukan inovasi tidak dicari dulu akar masalahnya, tidak melakukan analisis
SWOT, sehingg tidak tahu kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dimiliki,
sehingga inovasi yang dilakuakan tidak bermakna.
Proses
penggunaan analisis SWOT menghendaki adanya suatu survei internal tentang strengths, weaknesses program, serta
survei eksternal atas opportunities dan
threats.
h. Guru/tenaga kependidikan yang bersifat konservatif;
Sifat
guru yang konservatif tidak mau berinovasi bisa disebabkan oleh tingkat
kesejahteraan guru yang rendah karena gaji yang kecil. Semoga dengan adanya
sertifikasi guru sehingga gaji guru menjadi besar akan mendorong semangat
guru/tenaga kepedidikan untuk mau berinovasi. Kerdilnya profesi guru selama ini
menyebabkan kemerosotan penghargaan masyarakat terhadap guru. Padahal suatu
profesi akan berkembang jika profesi tersebut dihargai oleh masyarakat.
Disamping itu sifat konservatif bisa juga disebabkan oleh kurangnya wawasan
pengetahuan dan teknologi yang dimiliki oleh guru atau tenaga kependidikan.
i. Pemahaman profesionalisme yang samar;
Dalam
paradigma baru pendidikan, tujuan pembelajaran bukan hanya untuk mengubah
perilaku peserta didik, tetapi membentuk karakter dan sikap mental profesional
yang berorientasi pada global mindset.
Fokus pembelajarannya adalah pada ”mempelajari cara belajar” (learning how to learning) bukan semata
mempelajari substansi pelajaran. Sedangkan pendekatan, strategi dan metode
pembelajarannya adalah mengacu pada konsep konstruktivisme yang mendorong dan
menghargai usaha belajar siswa dengan proses inquiri and discovery learning. Tetapi masih banyak guru/tenaga kependidikan
yang belum bisa menerpakan paradigma ini. Jadi guru tugasnya adalah mentransfer
ilmu kepada peserta didik, sehingga peserta didik tidak dapat menggali potensi
yang ada di dalam dirinya.
Kegiatan
pembelajaran bukan berbentuk Teacher
centered content oriented tetapi berbentuk student centered learning yang dirancang dan disesuaikan dengan
kondisi lembaga pendidikan dan masyarakat. Guru hanya sebagai fasilitator dan
motivator dan muridlah yang menjadi pusat pembelajaran.
Winarno
Surachmat (1973) mengemukakan bahwa sebuah profesi dalam arti yang umum adalah
bidang pekerjaan dan pengabdian tertentu, karena hakekat dan sifatnya
membutuhkan persyaratan dasar keterampilan teknik dan kepribadian tertentu.
2. Faktor Output
a. Tujuan inovasi yang tidak jelas.
Hal ini
terjadi karena program yang akan dilakukan biasanya tidak disusun/dirumuskan
terlebih dahulu.
Sebelum melakukan program inovasi sebaiknya merumuskan
program inovasi yang meliputi :
1. Tentukan akar permasalahan, masalah apa yang ada dalam
suatu lembaga dimana kita berada.
2. Analisis diri atau SWOT, apa kekuatan dan kelemahan
yang dimiliki dan bagaimana peluang dan ancaman yang ada diluar.
3. Tentukan nama program inovasi.
4. Kegitan-kegiatan.
5. Target dan sasaran kegiatan.
6. Merancang manajemen kegiatan.
7. Keunggulan dan kelemahan program
8. Monitoring dan evaluasi program
9. Instrumen evaluasi
b. Tidak ada reward untuk sebuah inovasi.
Sudah
saatnya menetapkan suatu sistem penggajian bagi para guru secara adil, bernilai
ekonomis serta memilki daya tarik sedemikian rupa sehingga merangsang para
guru/tenaga kependidikan untuk melakukan tugasnya dengan penuh dedikasi dan
memberikan kepuasan lahir dan batin. Skala yang dipandang adil dan wajar serta
bernilai ekonomis adalah merupakan kulminasi dari berbagai variabel antara
lain: pendidikan, beban kerja, jenjang pendidikan tempat bertugas, kreativitas,
lokasi, kepangkatan dan sebagainya (Mohamad Surya, 2003 : 71)
Seorang
guru/tenaga kependidikan kurang tertarik untuk melakukan inovasi bisa
disebabkan karena tidak adanya reward (penghargaan) baik materi maupun
nonmateri. Untuk merangsang seorang guru/tenaga pendidikan tidak harus
diberitambahan gaji yang besar tetapi, bisa berupa pujian,
piagam atau perhatian yang lain. Misalnya diumumkan dengan ditulis pada ruang
guru “guru terbaik minggu ini adalah si fulan“
c. Pendekatannya terlalu formalitas dan keseragaman.
Pengaruh
sistem pendidikan yang sentralistik yang telah lama diterapkan di bidang
pendidikan kita, membuat kebiasaan para guru/tenaga kependidikan selalu
menunggu perintah dari atas. Sehingga kreativitas kita mandul. Untuk melakukan
sebuah inovasipun menunggu perintah, atau meniru dari orang lain. Dan apa yang
kita lakukan sekedar melaksanakan tugas/menggugurkan kewajiban/formalitas,
sehingga hasil yang diperoleh tidak optimal karena kegiatan yang dilakukan
hanya setengah hati.
d. Sekolah/lembaga terlalu memonopoli.
Pengaruh
kepemimpinan yang otoriter di pusat (pemerintahan orde baru), mempengaruhi juga
sampai kebawah termasuk sekolah. Sehingga kebebasan guru atau tenaga
kependidikan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki terbelenggu. Menyebabkan
program inovasi terhambat.
e. Komponen pengetahuan rendah dan modal RD kecil.
Penerapan
model inovasi mungkin masih banyak kendala bisa dikarenakan oleh latar belakang
materi yang diajarkannya karena perkembangan ilmu pengetahuan masih belum dapat
diikuti oleh setiap guru.
Modal research and development (R & D) yang kecil sehingga pengembangan inovasi
tehambat.
f. Kesukaran dalam mendiagnosis kelemahan inovasi;
Penyebab
kegagalan inovasi pendidikan meliputi tiga faktor; yaitu agen pembaharu, konsep
inovasi, proses inovasi dan proses difusi
g. Hasil akhir yang kurang jelas.
Dalam
setiap program inovasi sebaiknya dimonitoring dan di evaluasi maka dari itu
harus dibentuk seksi monev (seksi monitoring dan evaluasi), sehingga hasil
akhir dari suatu program inovasi dapat diketahui dengan jelas.
h. Sumber daya teknologi dan keuangan rendah;
Banyak
orang beranggapan bahwa buruknya sistem pendidikan Indonesia disebabkan oleh
kurangnya alokasi dana untuk sektor ini. Ini sama sekali tidak salah, tetapi
tidak akan cukup jika kita tidak berbicara tentang persoalan kurikulum dan
kehidupan dalam sekolah sendiri. Persoalan yang lebih serius berada pada titik
yang fundamental, yaitu politik pendidikan itu sendiri. Artinya, seperti apa
pemerintah melihat posisi pendidikan dalam masyarakat.
Salah
satu alasan yang digunakan pemerintah ketika menekan biaya pendidikan adalah
karena kondisi keuangan Negara yang krisis sehingga sulit untuk mengalokasikan
dana yang besar.
i. Terfokus pada akuntabilitas publik.
Apa yang
dilakukan oleh para inovator biasanya terfokus pada pertanggungjawaban kepada
masyarakat. Sehingga apa yang dilakukan serasa beban berat yang harus dipikul.
Bukan atas kesadaran bahwa dirinya adalah agen
of change sebuah tugas yang niscaya harus dilakukan. Karena merasa
keterpaksaan itulah yang membuat inovasi tidak berkembang.
j. Kurang mengarah pada entrepreneurship.
Inovasi-inovasi yang biasa kita lakukan biasanya
bersifat pengembangan kompetensi yang bersifat kognitif. Sedangkan aspek
psikomotor kurang dikembangkan, termasuk pada pengembangan kemampuan entrepreneurship (kewirausahaan).
k. Bersifat pasif.
Inovasi yang sering kita lakukan biasanya bersifat
pasif (reaktif), artinya melakukannya bila ada perintah atau kecenderungan
lingkungan atau situasi yang sedang menghangat. Sehingga tidak ada perintah
dari atasan kita tidak melakukan inovasi. Dan inovasi yang dilakukan setengah
hati tidak akan mendapat hasil yang optimal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar