Selamat datang di blog Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif

Selamat datang di blog Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif

Rabu, 08 Februari 2017

KONSEP PEMBELAJARAN INOVATIF


A.   KONSEP DASAR INOVATIF
Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang mengandung muatan pembaharuan, pembelajaran ini semakin populer ketika para pendidik menyadari bahwa dinamika masyarakat semakin hari semakin tumbuh dan berkembang, seirama tumbuh dan berkembangnya teknologi komunikasi pembelajaran. Kalau dulu sumber pembelajaran satu-satunya adalah guru, dan karena itu guru dianggap sebagai tokoh sentral dalam kelas, maka kini anggapan itu telah berubah, guru bukan lagi satu-satunya, bahkan boleh jadi dalam beberapa hal peserta didik  menjadi sumber pertama dan utama dalam kelas.
Dengan demikian pemebelajaran inovatif muncul sebagai akibat seseorang merasakan adanya anomali atau krisis pada paradigma yang dianutnya dalam memecahkan masalah belajar. Oleh sebab itu, dibutuhkan paradigma baru yang diyakini mampu memecahkan masalah, beberapa diantara paradigma tersebut melahirkan beberapa teori yang mendasari pembelajaran inovatif seperti teori Kognitif bahwa belajar itu terjadi dalam organisme manusia melalui proses yang bermakna yang menghubungkan peristiwa atau butir baru pada aspek kognitif yang ada. Selanjutnya teori Humanistik atau Teori Sosial yang menyebut bahwa Proses belajar tidak hanya terjadi karena seseorang mendapatkan stimulus dari lingkungannya dan meresponnya tetapi terjadi pula karena pelaku belajar berkomunikasi dengan individu lainnya, terakhir adalah teori Gestalt yang menekankan bahwa proses belajar tidak terpisahkan tetapi merupakan totalitas dalam membentuk medan belajar.
B.   MANFAAT PEMBELAJARAN INOVATIF

1.   Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan
Pembelajaran inovatif melatih siswa untuk berpikir kreatif sehingga siswa mampu memunculkan ide-ide baru yang positif. Di dalam pembelajaran ini siswa dapat mengembangkan kreatifitasnya, sehingga bisa menemukan hal-hal baru di era globalisasi ini.
2.   Menuntut kreatifitas guru dalam mengajar
Dalam hal ini guru dituntut untuk tidak monoton, maksudnya guru harus memunculkan inovasi-inovasi baru dalam proses pembelajaran. Kreatifitas guru sangat diperlukan agar proses pembelajaran tidak membosankan.
3.   Hubungan antara siswa dan guru menjadi hubungan yang saling belajar dan saling membangun
Guru dan siswa bersama-sama membangun suasana pembelajaran yang menyenangkan dalam kelas sehingga apa yang menjadi tujuan dari pembelajaran bias terwujud.
4.   Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat
Pembelajaran inovatif akan membuat siswa berfikir kritis dalam menghadapi masalah.
5.   Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja
Dunia pendidikan akan lebih berwarna, tidak monoton dan akan terus berkembang menjadi semakin baik. Hal ini akan mempengaruhi dunia kerja yang nantinya akan dijalani setiap orang.
6.   Proses pembelajaran dirancang, disusun, dan dikondisikan untuk siswa agar belajar
Siswa harus bisa menempatkan diri dengan baik, siswa tidak boleh hanya diam tapi harus merusaha memotivasi dirinya sendiri agar berkembang. Pembelajaran inovatif akan membangkitkan semangat siswa untuk menjadi yang terbaik.
C.   Tantangan dalam Pengembangan Pembelajaran Inovatif
1.  Faktor Input
a.  Halangan untuk berubah dari lingkungannya
        Lingkungan yang menjadi penghalang untuk terjadi perubahan /inovasi, bisa berupa lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Yang berkaitan dengan lingkungan fisik adalah tidak tersedianya sarana dan prasarana untuk berinovasi. Hal ini terbentur dengan dana untuk pengadaan sarana dan prasarana dalam rangka menunjang kegiatan/program inovasi. Kegiatan inovasi sangat berkaitan erat dengan teknologi informasi dan komunikasi, yang saat ini merupakan tuntutan mutlak dalam pemecahan permasalan hidup, termasuk di dalamnya masalah pendidikan. Pemerintah Singapura meyakini bahwa sepuluh tahun atau lima tahun yang akan datang, orang yang tidak menguasai komputer dan internet, akan menjadi dinosaurus yang punah karena kalah dalam persaingan dunia kerja dengan teknologi tinggi. Maka pendidikan di Singapura telah menempatkan teknologi informasi sebagai prioritas pendidikan.
        Lingkungan sosial adalah manusianya sebagai agen perubahan. Di kala kita melakukan program inovasi ada sementara orang lain yang mencibir melihat kegiatan inovasi yang kita lakukan, seraya berucap apa-apaan. Bahkan ada orang yang mengatakan untuk apa kita susah-susah berinovasi kalau penghasilan tetap sama dengan orang yang diam (konservatif) dengan membuat akronim PGPS (Pinter Goblog Penghasilan Sama). Keadaan yang demikianlah yang dapat menghalangi untuk terjadinya sebuah perubahan. Kalau keadaan yang demikian tidak bisa diubah maka tidak akan terjadi progress dalam dunia pendidikan di negeri ini.
b.  Ketidakterampilan agen pembaharu;
        Agen pembaharu kurang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga menyebabkan kemunduran dalam bidang pendidikan. Kita selalu menyerahkan studi ilmu pengetahuan dan teknologi kepada orang lain dan membuat kita tergantung pada orang lain.
        Di dalam abad modern, masalah kehidupan manusia tidak dapat dipecahkan kecuali dengan upaya pengembangan ilmiah, dan kunci untuk sukses di dalam seluruh urusan harus bersandar pada ilmu. Karena itu adalah kewajiban bagi para guru dan tenaga kependidikan untuk meraih pengetahuan teknik dan ilmiah yang lengkap dan mutahir.
        Ketidakterampilan agen pembaharu dalam pendidikan tak lain dan tak bukan karena dihasilkan oleh sistem pendidikan nasional yang tidak baik.
c.  Inovasi yang bepusat hanya pada seseorang;
        Reformasi di bidang pendidikan ditandai dengan terjadinya pergeseran paradigma pengelolaan dan pembinaan pendidikan dari centalized system menuju decentralized system yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Namun reformasi ini belum begitu dapat dirasakan, hal ini dikarenakan sistem sentralistik yang telah bercokol lama dalam sistem pendidkan nasional kita. Sehingga kreatifitas berinovasi guru atau tenaga kependidikan kita belum terbangun dalam pendidikan. Sehingga inovasi hanya berpusat pada segelintir orang.
d. Sensitivitas dan defensiveness guru-guru/tenaga kependidikan
        Guru tidak merasa terpanggil untuk memajukan pendidikan, maka dari itu tidak mau melakukan inovasi dalam pendidikan. Metode pembelajaran yang dipakai dari tahun ke tahun itu-itu saja.
e.  Ketiadaan kalangan (linking pin) agen perubahan.
        Agen perubahan berdiri sendiri-sendiri, tidak membentuk jaringan agen perubahan. Sehingga untuk membangun sebuah inovasi terhambat. Sebuah kegiatan yang terorganisir akan lebih efektif dibanding dengan yang tidak terorganisir.
f.   Ketidaksesuaian antara teori dan praktik;
        Sebuah program inovasi dilakukan adalah untuk efektifitas dan efisiensi dalam pencapaian program. Demikian halnya dengan inovasi pendidikan, adalah dilakukan dengan tujuan optimalisasi proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran hal lain yang perlu memperoleh perhatian dalam praktik pendidikan tentang pemberdayaan siswa.
        Menurut Sastraprateja pemberdayaan dalam konteks pendidikan meliputi tiga kekuatan yaitu power to adalah kekuatan yang membuat seseorang melalukan sesuatu, power with, kekuatan bersama agar peserta didik membangun solidaritas atas dasar komitmen terhadap tujuan, dan power within, kekuatan spiritual.
        Ketika proses pembelajaran terpaku pada salah satu di antara ketiga kekuatan tersebut maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan. Proses pembelajaran yang hanya mengarahkan peserta didik kepada power to saja, hanya akan melahirkan siswa cerdas tetapi tidak berwawasan.
g.  Inovasi yang digulirkan kurang ilmiah dan kurang hasil kajian.
        Dalam melakukan inovasi tidak dicari dulu akar masalahnya, tidak melakukan analisis SWOT, sehingg tidak tahu kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dimiliki, sehingga inovasi yang dilakuakan tidak bermakna.
        Proses penggunaan analisis SWOT menghendaki adanya suatu survei internal tentang strengths, weaknesses program, serta survei eksternal atas opportunities dan threats.
h. Guru/tenaga kependidikan yang bersifat konservatif;
        Sifat guru yang konservatif tidak mau berinovasi bisa disebabkan oleh tingkat kesejahteraan guru yang rendah karena gaji yang kecil. Semoga dengan adanya sertifikasi guru sehingga gaji guru menjadi besar akan mendorong semangat guru/tenaga kepedidikan untuk mau berinovasi. Kerdilnya profesi guru selama ini menyebabkan kemerosotan penghargaan masyarakat terhadap guru. Padahal suatu profesi akan berkembang jika profesi tersebut dihargai oleh masyarakat. Disamping itu sifat konservatif bisa juga disebabkan oleh kurangnya wawasan pengetahuan dan teknologi yang dimiliki oleh guru atau tenaga kependidikan.
i.   Pemahaman profesionalisme yang samar;
        Dalam paradigma baru pendidikan, tujuan pembelajaran bukan hanya untuk mengubah perilaku peserta didik, tetapi membentuk karakter dan sikap mental profesional yang berorientasi pada global mindset. Fokus pembelajarannya adalah pada ”mempelajari cara belajar” (learning how to learning) bukan semata mempelajari substansi pelajaran. Sedangkan pendekatan, strategi dan metode pembelajarannya adalah mengacu pada konsep konstruktivisme yang mendorong dan menghargai usaha belajar siswa dengan proses inquiri and discovery learning. Tetapi masih banyak guru/tenaga kependidikan yang belum bisa menerpakan paradigma ini. Jadi guru tugasnya adalah mentransfer ilmu kepada peserta didik, sehingga peserta didik tidak dapat menggali potensi yang ada di dalam dirinya.
        Kegiatan pembelajaran bukan berbentuk Teacher centered content oriented tetapi berbentuk student centered learning yang dirancang dan disesuaikan dengan kondisi lembaga pendidikan dan masyarakat. Guru hanya sebagai fasilitator dan motivator dan muridlah yang menjadi pusat pembelajaran.
        Winarno Surachmat (1973) mengemukakan bahwa sebuah profesi dalam arti yang umum adalah bidang pekerjaan dan pengabdian tertentu, karena hakekat dan sifatnya membutuhkan persyaratan dasar keterampilan teknik dan kepribadian tertentu.

2. Faktor Output
a.  Tujuan inovasi yang tidak jelas.
        Hal ini terjadi karena program yang akan dilakukan biasanya tidak disusun/dirumuskan terlebih dahulu.
Sebelum melakukan program inovasi sebaiknya merumuskan program inovasi yang meliputi :
1.  Tentukan akar permasalahan, masalah apa yang ada dalam suatu lembaga dimana kita berada.
2.  Analisis diri atau SWOT, apa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki dan bagaimana peluang dan ancaman yang ada diluar.
3.  Tentukan nama program inovasi.
4.  Kegitan-kegiatan.
5.  Target dan sasaran kegiatan.
6.  Merancang manajemen kegiatan.
7.  Keunggulan dan kelemahan program
8.  Monitoring dan evaluasi program
9.  Instrumen evaluasi
b.  Tidak ada reward untuk sebuah inovasi.
        Sudah saatnya menetapkan suatu sistem penggajian bagi para guru secara adil, bernilai ekonomis serta memilki daya tarik sedemikian rupa sehingga merangsang para guru/tenaga kependidikan untuk melakukan tugasnya dengan penuh dedikasi dan memberikan kepuasan lahir dan batin. Skala yang dipandang adil dan wajar serta bernilai ekonomis adalah merupakan kulminasi dari berbagai variabel antara lain: pendidikan, beban kerja, jenjang pendidikan tempat bertugas, kreativitas, lokasi, kepangkatan dan sebagainya (Mohamad Surya, 2003 : 71)
        Seorang guru/tenaga kependidikan kurang tertarik untuk melakukan inovasi bisa disebabkan karena tidak adanya reward (penghargaan) baik materi maupun nonmateri. Untuk merangsang seorang guru/tenaga pendidikan tidak harus diberitambahan gaji yang besar tetapi, bisa berupa pujian, piagam atau perhatian yang lain. Misalnya diumumkan dengan ditulis pada ruang guru “guru terbaik minggu ini adalah si fulan“
c.  Pendekatannya terlalu formalitas dan keseragaman.
        Pengaruh sistem pendidikan yang sentralistik yang telah lama diterapkan di bidang pendidikan kita, membuat kebiasaan para guru/tenaga kependidikan selalu menunggu perintah dari atas. Sehingga kreativitas kita mandul. Untuk melakukan sebuah inovasipun menunggu perintah, atau meniru dari orang lain. Dan apa yang kita lakukan sekedar melaksanakan tugas/menggugurkan kewajiban/formalitas, sehingga hasil yang diperoleh tidak optimal karena kegiatan yang dilakukan hanya setengah hati.
d. Sekolah/lembaga terlalu memonopoli.
        Pengaruh kepemimpinan yang otoriter di pusat (pemerintahan orde baru), mempengaruhi juga sampai kebawah termasuk sekolah. Sehingga kebebasan guru atau tenaga kependidikan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki terbelenggu. Menyebabkan program inovasi terhambat.
e.  Komponen pengetahuan rendah dan modal RD kecil.
        Penerapan model inovasi mungkin masih banyak kendala bisa dikarenakan oleh latar belakang materi yang diajarkannya karena perkembangan ilmu pengetahuan masih belum dapat diikuti oleh setiap guru.
        Modal research and development (R & D) yang kecil sehingga pengembangan inovasi tehambat.
f.   Kesukaran dalam mendiagnosis kelemahan inovasi;
        Penyebab kegagalan inovasi pendidikan meliputi tiga faktor; yaitu agen pembaharu, konsep inovasi, proses inovasi dan proses difusi
g.  Hasil akhir yang kurang jelas.
        Dalam setiap program inovasi sebaiknya dimonitoring dan di evaluasi maka dari itu harus dibentuk seksi monev (seksi monitoring dan evaluasi), sehingga hasil akhir dari suatu program inovasi dapat diketahui dengan jelas.
h. Sumber daya teknologi dan keuangan rendah;
        Banyak orang beranggapan bahwa buruknya sistem pendidikan Indonesia disebabkan oleh kurangnya alokasi dana untuk sektor ini. Ini sama sekali tidak salah, tetapi tidak akan cukup jika kita tidak berbicara tentang persoalan kurikulum dan kehidupan dalam sekolah sendiri. Persoalan yang lebih serius berada pada titik yang fundamental, yaitu politik pendidikan itu sendiri. Artinya, seperti apa pemerintah melihat posisi pendidikan dalam masyarakat.
        Salah satu alasan yang digunakan pemerintah ketika menekan biaya pendidikan adalah karena kondisi keuangan Negara yang krisis sehingga sulit untuk mengalokasikan dana yang besar.
i.   Terfokus pada akuntabilitas publik.
        Apa yang dilakukan oleh para inovator biasanya terfokus pada pertanggungjawaban kepada masyarakat. Sehingga apa yang dilakukan serasa beban berat yang harus dipikul. Bukan atas kesadaran bahwa dirinya adalah agen of change sebuah tugas yang niscaya harus dilakukan. Karena merasa keterpaksaan itulah yang membuat inovasi tidak berkembang.
j.   Kurang mengarah pada entrepreneurship.
Inovasi-inovasi yang biasa kita lakukan biasanya bersifat pengembangan kompetensi yang bersifat kognitif. Sedangkan aspek psikomotor kurang dikembangkan, termasuk pada pengembangan kemampuan entrepreneurship (kewirausahaan).
k.  Bersifat pasif.
Inovasi yang sering kita lakukan biasanya bersifat pasif (reaktif), artinya melakukannya bila ada perintah atau kecenderungan lingkungan atau situasi yang sedang menghangat. Sehingga tidak ada perintah dari atasan kita tidak melakukan inovasi. Dan inovasi yang dilakukan setengah hati tidak akan mendapat hasil yang optimal.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar