Selamat datang di blog Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif

Selamat datang di blog Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif

Rabu, 22 Februari 2017

MODEL PEMBELAJARAN SOSIAL

Model pembelajaran simulasi sosial merupakan aplikasi dari prinsip-prinsip cybernetic (cabang dari psikologi). Psikologi cybernetic menganalogikan manusia sebagai suatu sistem kontrol yang menggerakkan jalannya tindakan dan membenarkan arah atau mengoreksi tindakan tersebut dengan pengertian umpan balik. Menurut psikologi cybernetic, tingkah laku manusia mencakup pola gerak yang dapat diamati baik berupa tingkah laku tak tampak seperti pikiran maupun tingkah laku tampak. Pada bermacam-macam situasi yang diberikan, individu memodifikasi tingkah laku sesuai dengan umpan balik yang mereka terima dari lingkungannya.
Esensi psikologi cybernetic adalah prinsip umpan balik yang berorientasi pada pendirian individual yang dirasakan merupakan dampak yang ditimbulkan dari keputusannya sendiri dan merupakan dasar untuk memperbaiki diri. Individu dapat merasakan pengaruh dari ketetapan yang diambilnya akibat dari pemenuhan kebutuhan lingkungan dari pada hanya mengatakan bahwa itu benar atau salah dan coba lagi. Hal ini merupakan konsekuansi lingkungan dari pilihannya yang dikembalikan kepadanya. Belajar dalam pengertian cybernetic adalah penginderaan tingkah laku individu yang mempunyai akibat pada lingkungan serta perbaikan diri. Pengajaran dalam pengertian sybernetic dirancang untuk menciptakan lingkungan bagi siswa dengan sitem umpan balik.
 Para ahli psikologi cybernetic menemukan bahwa simulasi pendidikan memungkinkan siswa belajar untuk pertama kalinya dari pengalaman yang disimulasikan dalam pembelajaran dari pada yang dijelaskan guru. Bagaimanapun juga besarnya ketertiban keterlibatan siswa, mungkin siswa masi belum siap mempelajari memahami apa yang mereka pelajari atau yang mereka almi. Dengan demikian, guru memegang peranan penting dalam menumbuhnkan kesadarab siswa tentang konsep dan prinsi-prinsip pendukung simulasi dan reaksi-reaksinya. Selain itu guru berperan sebagai pelaku fungsi pengatur. Dengan isu-isu dan permainan yang lebih komplek di dalam pembelajaran maka kegiatan guru lebih kritis.
Dengan demikian dalam menggunakan analogi sistem mekanik sebagai kerangka acuan untuk menganalisis manusia, psikolog datang dengan ide sentral "bahwa kinerja dan pembelajaran harus dianalisis dalam hal hubungan kontrol antara operator manusia dan situasi instrumental. "Artinya, belajar dipahami akan ditentukan oleh sifat individu, serta dengan desain situasi belajar.[20]
Jadi simulator adalah suatu alat yang merepresentasikan realitas, dimana kerumitas aktifitasnya dapat dikendalikan. Contoh simulator pilot pesawat terbang, simulator pengendara mobil dan lain-lain.[21] Aplikasinya bahwa simulasi dapat merangsang suatu pembelajaran tentang: (1) kompetisi, (2) kerjasama, (3) empati, (4) sistem sosial, (5) konsep, (6) keterampilan, (7) efikasi, (8) membayar hukuman, (9) peran kesempatan, dan (10) kemampuan untuk berpikir kritis (memeriksa strategi alternatif dan mengantisipasi orang lain)dan membuat keputusan.[22] Setelah mengetahui dan memahami alur model pembelajaran ini secara umum maka dirasa perlu membahas tentang prosedur atau hakikat model pembelajaran simulasi dalam proses pembelajaran.

Prosedur atau Hakikat Model Pembelajaran Simulasi Sosial

Sangat mudah untuk mengasumsikan bahwa karena kegiatan pembelajaran telah dirancang dan dikemas oleh para ahli, guru memiliki peran minimal untuk bermain dalam situasi belajar. Orang cenderung percaya bahwa permainan yang dirancang dengan baik akan mengajarkan sendiri.Tapi ini hanya sebagian benar. Psikolog Cybernetic menemukan bahwa simulasi pendidikanmemungkinkan siswa untuk belajar langsung dari pengalaman simulasi dibangun ke dalam permainan dan bukan dari penjelasan atau ceramah guru. Namun, karena keterlibatan intens mereka, siswa mungkin tidak selalu menyadari apa yang mereka pelajari dan alami. Dengan demikian guru memiliki peran penting untuk bermain dalam meningkatkan kesadaran siswa tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasari simulasi dan reaksi mereka sendiri.Selain itu, guru memiliki fungsi manajerial yang penting. Dengan permainan (game) yang lebih kompleks dan isu-isu, bahkan kegiatan guru adalah lebih penting jika terjadi untuk belajar.Bruce Joyce Marsha Weil mengidentifikasi empat peran guru dalam model simulasi yaitu: (1) menjelaskan (explaining) (2) mewasiti (refereeing), (3) melatih (coaching), dan (4) diskusi (Discussing).[23]
Menjelaskan (explaining). Untuk belajar dari simulasi, para pemain perlu memahami aturan-aturan yang cukup untuk melaksanakan sebagian besar kegiatan. Namun, tidak pentingbahwa siswa memiliki pemahaman yang lengkap dari simulasi di awal. Seperti dalamkehidupan nyata, banyak aturan menjadi relevan hanya sebagai kegiatan dilanjutkan.
Wasit (refereeing). Simulasi digunakan di dalam kelas yang dirancang untuk memberikan manfaat pendidikan. Guru harus mengontrol partisipasi siswa dalam permainan untuk memastikan bahwa simulasi ada manfaatnya dilakukan. Sebelum permainan ini dimainkan, guru harus menetapkan siswa untuk tim (jika permainan melibatkan teamwork),sesuai kemampuan individu dengan peran dalam simulasi untuk menjamin partisipasi aktifseluruh siswa. Siswa pemalu dan tegas, misalnya, harus dicampur dalam satu tim. Salah satuhal yang harus dihindari guru adalah hanya mengutamakan siswa yang aktif saja dan mengabaikan siswa yang fasif atau tidak memiliki pengetahuan akademis. Guru harusmenyadari terlebih dahulu situasi simulasi pembelajaran aktif dan dengan demikian memintakepada siswa untuk bebas berekspresi dan bebas serta aktif bicara dibanding dari kegiatan kelas lainnya. Guru harus bertindak sebagai wasit yang melihat aturan-aturan permainan dan lebih baik guru tidak terlibat dalam simulasi.
Melatih (coaching). Guru harus bertindak sebagai pelatih bila perlu memberikan nasihat atau petunjuk pemainan agar siswa bermain lebih baik. Sebagai seorang pelatih hendaknya bertindak sebagai seorang supervisor yang sportif bukan sebagai seorang yang otoriter. Dalam simulasi, pemain mungkin memiliki kesalahan-kesalah dan mengandung beberapa resiko dan guru dalam hal ini harus bersifat adil tidak memihak.
Mendiskusikan (Discussing). Setelah sesi simulasi selesai perlu ada diskusi, membisarakan bagaimana permainan simulasi dinyatakan dalam kehidupan sebenarnya, bagaimana tanggapan siswa, apa kesulitan-kesulitan yang dijumpai, dan hubungan apa yang dapat diungkapkan antara simulasi dan bahan yang dimaksudkan dalam simulasi yang dilaksanakan. Mungkin juga kelas mempunyai cara-cara yang baik untuk menguji kebenaran simulasi yang telah dilakukan.

Dalam pelaksanaannya model simulasi sosial sebagaimana dikemukakan oleh Joyce dan Weil (1986) mempunyai empat tahapan yaitu (1) orientasi), (2) partisipasi dalam latihan, (3) simulasi dan (4) pemantapan. Berikut tabel tahapan pelaksanaan model pembelajaran simulasi sosial.[24]

Mengapa dikatakan model pembelajaran sosial? Karena pendekatan pembelajaran yang termasuk dalam kategori model ini menekankan hubungan individu dengan masyarakat atau orang lain. Model-model dalam kategori ini difokuskan pada peningkatan kemampuan individu dalam berhubungan dengan orang lain, terlibat dalam proses demokratis dan bekerja secara produktif dalam masyarakat.

a.       Sintak (syntax) yang merupakan fase-fase (phasing) dari model yang menjelaskan model tersebut dalam pelaksanaannya secara nyata (Joyce dan Weil, 1986:14). Contohnya, bagaimana kegiatan pendahuluan pada proses pembelajaran dilakukan? Apa yang akan terjadi berikutnya?
b.      Sistem sosial (the social system) yang menunjukkan peran dan hubungan guru dan siswa selama proses pembelajaran. Kepemimpinan guru sangatlah bervariasi pada satu model dengan model lainnya. Pada satu model, guru berperan sebagai fasilitator namun pada model yang lain guru berperan sebagai sumber ilmu pengetahuan.
c.       Prinsip reaksi (principles of reaction) yang menunjukkan bagaimana guru memperlakukan siswa dan bagaimana pula ia merespon terhadap apa yang dilakukan siswanya. Pada satu model, guru memberi ganjaran atas sesuatu yang sudah dilakukan siswa dengan baik, namun pada model yang lain guru bersikap tidak memberikan penilaian terhadap siswanya, terutama untuk halhal yang berkait dengan kreativitas.
d.      Sistem pendukung (support system) yang menunjukkan segala sarana, bahan, dan alat yang dapat digunakan untuk mendukung model tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar