Model
pembelajaran simulasi sosial merupakan aplikasi dari prinsip-prinsip cybernetic
(cabang dari psikologi). Psikologi cybernetic menganalogikan manusia sebagai
suatu sistem kontrol yang menggerakkan jalannya tindakan dan membenarkan arah
atau mengoreksi tindakan tersebut dengan pengertian umpan balik. Menurut
psikologi cybernetic, tingkah laku manusia mencakup pola gerak yang dapat
diamati baik berupa tingkah laku tak tampak seperti pikiran maupun tingkah laku
tampak. Pada bermacam-macam situasi yang diberikan, individu memodifikasi
tingkah laku sesuai dengan umpan balik yang mereka terima dari lingkungannya.
Esensi
psikologi cybernetic adalah prinsip umpan balik yang
berorientasi pada pendirian individual yang dirasakan merupakan dampak yang
ditimbulkan dari keputusannya sendiri dan merupakan dasar untuk memperbaiki
diri. Individu dapat merasakan pengaruh dari ketetapan yang diambilnya akibat
dari pemenuhan kebutuhan lingkungan dari pada hanya mengatakan bahwa itu benar
atau salah dan coba lagi. Hal ini merupakan konsekuansi lingkungan dari
pilihannya yang dikembalikan kepadanya. Belajar dalam pengertian cybernetic
adalah penginderaan tingkah laku individu yang mempunyai akibat pada lingkungan
serta perbaikan diri. Pengajaran dalam pengertian sybernetic dirancang untuk
menciptakan lingkungan bagi siswa dengan sitem umpan balik.
Para
ahli psikologi cybernetic menemukan bahwa simulasi pendidikan memungkinkan
siswa belajar untuk pertama kalinya dari pengalaman yang disimulasikan dalam
pembelajaran dari pada yang dijelaskan guru. Bagaimanapun juga besarnya
ketertiban keterlibatan siswa, mungkin siswa masi belum siap mempelajari
memahami apa yang mereka pelajari atau yang mereka almi. Dengan demikian, guru
memegang peranan penting dalam menumbuhnkan kesadarab siswa tentang konsep dan
prinsi-prinsip pendukung simulasi dan reaksi-reaksinya. Selain itu guru
berperan sebagai pelaku fungsi pengatur. Dengan isu-isu dan permainan yang
lebih komplek di dalam pembelajaran maka kegiatan guru lebih kritis.
Dengan
demikian dalam menggunakan analogi sistem mekanik sebagai kerangka acuan untuk
menganalisis manusia, psikolog datang dengan ide sentral "bahwa kinerja
dan pembelajaran harus dianalisis dalam hal hubungan kontrol antara operator
manusia dan situasi instrumental. "Artinya, belajar dipahami akan
ditentukan oleh sifat individu, serta dengan desain situasi belajar.[20]
Jadi
simulator adalah suatu alat yang merepresentasikan realitas, dimana kerumitas
aktifitasnya dapat dikendalikan. Contoh simulator pilot pesawat terbang,
simulator pengendara mobil dan lain-lain.[21] Aplikasinya bahwa simulasi dapat
merangsang suatu pembelajaran tentang: (1) kompetisi, (2) kerjasama, (3)
empati, (4) sistem sosial, (5) konsep, (6) keterampilan, (7) efikasi, (8)
membayar hukuman, (9) peran kesempatan, dan (10) kemampuan untuk berpikir kritis
(memeriksa strategi alternatif dan mengantisipasi orang lain)dan membuat
keputusan.[22] Setelah mengetahui dan memahami
alur model pembelajaran ini secara umum maka dirasa perlu membahas tentang
prosedur atau hakikat model pembelajaran simulasi dalam proses pembelajaran.
Prosedur
atau Hakikat Model Pembelajaran Simulasi Sosial
Sangat
mudah untuk mengasumsikan bahwa karena kegiatan pembelajaran telah
dirancang dan dikemas oleh para ahli, guru memiliki peran minimal untuk
bermain dalam situasi belajar. Orang cenderung percaya bahwa
permainan yang dirancang dengan baik akan mengajarkan sendiri.Tapi
ini hanya sebagian benar. Psikolog Cybernetic menemukan
bahwa simulasi pendidikanmemungkinkan siswa untuk belajar
langsung dari pengalaman simulasi dibangun ke dalam permainan dan
bukan dari penjelasan atau ceramah guru. Namun, karena keterlibatan intens
mereka, siswa mungkin tidak selalu menyadari apa yang
mereka pelajari dan alami. Dengan demikian guru memiliki
peran penting untuk bermain dalam meningkatkan kesadaran siswa
tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasari simulasi dan
reaksi mereka sendiri.Selain itu, guru memiliki fungsi
manajerial yang penting. Dengan permainan (game) yang
lebih kompleks dan isu-isu, bahkan kegiatan guru adalah
lebih penting jika terjadi untuk belajar.Bruce Joyce Marsha Weil mengidentifikasi empat
peran guru dalam model simulasi yaitu: (1) menjelaskan (explaining)
(2) mewasiti (refereeing), (3) melatih (coaching), dan (4)
diskusi (Discussing).[23]
Menjelaskan (explaining). Untuk belajar
dari simulasi, para pemain perlu memahami aturan-aturan yang
cukup untuk melaksanakan sebagian besar kegiatan. Namun, tidak
pentingbahwa siswa memiliki pemahaman yang lengkap dari simulasi di
awal. Seperti dalamkehidupan nyata, banyak aturan menjadi
relevan hanya sebagai kegiatan dilanjutkan.
Wasit (refereeing). Simulasi digunakan
di dalam kelas yang dirancang untuk memberikan manfaat pendidikan. Guru
harus mengontrol partisipasi siswa dalam permainan untuk
memastikan bahwa simulasi ada manfaatnya dilakukan. Sebelum permainan ini
dimainkan, guru harus menetapkan siswa untuk tim (jika permainan melibatkan teamwork),sesuai kemampuan individu
dengan peran dalam simulasi untuk menjamin partisipasi
aktifseluruh siswa. Siswa pemalu dan tegas, misalnya, harus
dicampur dalam satu tim. Salah satuhal yang harus dihindari guru
adalah hanya mengutamakan siswa yang aktif saja dan mengabaikan siswa yang
fasif atau tidak memiliki pengetahuan akademis. Guru harusmenyadari terlebih
dahulu situasi simulasi pembelajaran aktif dan dengan demikian memintakepada
siswa untuk bebas berekspresi dan bebas serta aktif bicara dibanding dari
kegiatan kelas lainnya. Guru harus bertindak sebagai wasit yang
melihat aturan-aturan permainan dan lebih baik guru tidak terlibat dalam
simulasi.
Melatih
(coaching). Guru harus bertindak sebagai pelatih bila
perlu memberikan nasihat atau petunjuk pemainan agar siswa bermain
lebih baik. Sebagai seorang pelatih hendaknya bertindak sebagai seorang
supervisor yang sportif bukan sebagai seorang yang otoriter. Dalam simulasi, pemain
mungkin memiliki kesalahan-kesalah dan mengandung beberapa resiko dan guru
dalam hal ini harus bersifat adil tidak memihak.
Mendiskusikan
(Discussing). Setelah sesi simulasi selesai perlu ada diskusi,
membisarakan bagaimana permainan simulasi dinyatakan dalam kehidupan
sebenarnya, bagaimana tanggapan siswa, apa kesulitan-kesulitan yang dijumpai, dan
hubungan apa yang dapat diungkapkan antara simulasi dan bahan yang dimaksudkan
dalam simulasi yang dilaksanakan. Mungkin juga kelas mempunyai cara-cara yang
baik untuk menguji kebenaran simulasi yang telah dilakukan.
Dalam
pelaksanaannya model simulasi sosial sebagaimana dikemukakan oleh Joyce dan
Weil (1986) mempunyai empat tahapan yaitu (1) orientasi), (2) partisipasi dalam
latihan, (3) simulasi dan (4) pemantapan. Berikut tabel tahapan pelaksanaan
model pembelajaran simulasi sosial.[24]
Mengapa dikatakan model pembelajaran sosial? Karena
pendekatan pembelajaran yang termasuk dalam kategori model ini menekankan
hubungan individu dengan masyarakat atau orang lain. Model-model dalam kategori
ini difokuskan pada peningkatan kemampuan individu dalam berhubungan dengan
orang lain, terlibat dalam proses demokratis dan bekerja secara produktif dalam
masyarakat.
a. Sintak
(syntax) yang merupakan fase-fase (phasing) dari model yang menjelaskan model
tersebut dalam pelaksanaannya secara nyata (Joyce dan Weil, 1986:14).
Contohnya, bagaimana kegiatan pendahuluan pada proses pembelajaran dilakukan?
Apa yang akan terjadi berikutnya?
b. Sistem
sosial (the social system) yang menunjukkan peran dan hubungan guru dan siswa
selama proses pembelajaran. Kepemimpinan guru sangatlah bervariasi pada satu
model dengan model lainnya. Pada satu model, guru berperan sebagai fasilitator
namun pada model yang lain guru berperan sebagai sumber ilmu pengetahuan.
c. Prinsip
reaksi (principles of reaction) yang menunjukkan bagaimana guru memperlakukan
siswa dan bagaimana pula ia merespon terhadap apa yang dilakukan siswanya. Pada
satu model, guru memberi ganjaran atas sesuatu yang sudah dilakukan siswa
dengan baik, namun pada model yang lain guru bersikap tidak memberikan
penilaian terhadap siswanya, terutama untuk halhal yang berkait dengan
kreativitas.
d. Sistem
pendukung (support system) yang menunjukkan segala sarana, bahan, dan alat yang
dapat digunakan untuk mendukung model tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar