Semua model dalam kelompok ini memiliki dasar teoritis yang sama, yaitu suatu body of knowledge yang merujuk pada teori behavioral. Model-model ini menekankan pada upayanya untuk mengubah perilaku yang tampak dari para siswa. Beberapa model yang termasuk ke dalam kategori ini antara lain:
1. Model Instruksi Lansung
Kelompok : Model Perubahan Perilaku
Kritik terhadap instruksi lansung memperingatkan pada kita bahwa pendekatan ini seharusnya tidak digunakan setiap saat, untuk semua bidang pendidikan, atau untuk semua siswa. Beberapa keunggulan dari instruksi lansung ini adalah adanya focus akademik, arahan dan control guru, harapan yang tinggi terhadap perkembangan siswa, system manajemen waktu, dan atmosfer akademik yang relative stabil. Focus akademik berarti prioritas tertinggi terhadap penugasan dan penyelesaian tugas akademik.
a. Sintak
Tahap 1: Orientasi
1. Guru menentukan materi pelajaran
2. Guru meninjau pelajaran sebelumnya
3. Guru menentukan tujuan pelajaran
4. Guru menentukan prosedur pengajaran
Tahap 2: Presentasi
1. Guru menjelaskan konsep atau keterampilan baru
2. Guru menyajikan presentasi visual atas tugas yang diberikan
3. Guru memastikan pemahaman
Tahap 3: Praktik Yang Terstruktur
1. Guru menuntun kelompok siswa dengan contoh praktik dalam beberapa langkah
2. Siswa merespons pertanyaan
3. Guru memberikan koreksi terhadap kesalahan dan memperkuat praktik yang telah benar
Tahap 4: Praktik di Bawah Bimbingan Guru
1. Siswa berpraktik secara semi-independen
2. Guru menggilir siswa untuk melakukan praktik dan mengamati praktik
3. Guru memberikan tanggapan balik berupa pujian, bisiskan, maupun petunjuk
Tahap 5: Praktik Mandiri
1. Siswa melakukan praktik secara mandiri di rumah atau di kelas
2. Guru menunda respons balik dan memberikanya di akhir rangkaian praktik
3. Praktik mandiri dilakukan beberapa kali dalam periode waktu yang lama
b. System Social
System social dalam model intruksi lansung ini benar-benar terstruktur.
c. Peran/Tugas Guru
Dalam model ini, tugas guru adalah menyediakan pengetahuan mengenai hasil-hasil, membantu siswa mengandalkan diri mereka sendiri, dan memberikan reinforcement. System dukungan mencakup rangkaian tugas pembelajaran, yang terkadang sama rumitnya dengan seperangkat materi yang dikembangkan sendiri oleh tim instruktur.
d. System Dukungan
Lingkungan intruksi lansung adalah tempat dimana pembelajaran menjadi focus utama dan tempat dimana siswa terlibat dalam tugas-tugas akademik dalam waktu tertentu untuk mencapai rating kesuksesan yang tinggi.
e. Pengaruh
Dibimbing dan pemberian respon-balik secara lansung. Model ini menuntut siswa untuk mendekati materi akademik secara sistematik. Rancangan dibentuk untuk menungkatkan dan memelihara motivasi melalui aktivitas pengendalian diri dan penguatan ingatan terhadap materi-materi yang telah dipelajari. Melalui kesuksesan dan respons-balik positif, model ini mencoba memperkaya penghargaan diri siswa.
2. Model Simulasi
Kelompok : model perubahan perilaku Carl Smith dan Mary Smith (1966)
Simulasi pada hakikatnya didasarkan pada prinsip sibernatik yang dihubungkan dengan computer. Focus utama dalam teori ini adalah munculnya kesamaan antara mekanisme control timbale balik dari system electronic dengan system-sistem manusia. Ada banyak contoh simulasi yang berasal dari berbagai hal, seperti permainan, kompetisi, kerja sama dan beberapa hal yang dilakukan oleh perseorangan dengan standar mereka pribadi. Dengan simulasi, tugas pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa agar tidak begitu rumit daripada yang tampak di dunia nyata, sehingga siswa bisa dengan mudah dan cepat menguasai skill yang tentu saja akan sangat sulit ketika mereka mencoba menguasainya di dunia nyata.
a. Sintak
Tahap 1: Orientasi
1. Guru menyajikan topic mengenai simulasi dan konsep yang akan dipakai dalam aktivitas simulasi.
2. Guru menjelaskan simulasi dan permainan.
3. Guru menyajikan ikhtisar simulasi.
Tahap 2 : Latihan Partisipasi
1. Guru membuat scenario (aturan, peran, prosedur, skor, tipe keputusan yang akan dipilih, dan tujuan)
2. Guru menugaskan peran simulasi kepada siswa
3. Siswa melaksanakan praktik dalam jangka waktu yang singkat
Tahap 3: Pelaksanaan Simulasi
1. Guru memimpin aktivitas permainan dan administrasi permainan
2. Siswa mendapatkan umpan balik dan evaluasi (mengenai penampilan dan pengaruh keputusan)
3. Guru menjelaskan kesalahan konsepsi
4. Siswa melanjurkan simulasi
Tahap 4: Wawancara Siswa
1. Guru menyimpulkan kejadian dan persepsi
2. Siswa menyimpulkan kesulitan dan pandangan-pandanganya
3. Guru dan siswa menganalisis proses
4. Guru dan siswa membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata
5. Siswa menghubungkan aktivitas simulasi dengan materi pelajaran
6. Guru menilai dan kembali merancang simulasi.
b. System Sosial
Kesuksesan terakhir dalam simulasi, sebenarnya, juga ditentukan oleh kerja sama dan kemauan untuk berpartisipasi dalam diri siswa. Dengan bekerja sama, siswa bisa saling sharing ide, saling mengevaluasi dengan teman-temanya, dan tidak hanya bergantung pada evaluasi guru. System sosial seperti ini seharusnya menyenangkan dan meriah.
c. Peran/Tugas Guru
Peran guru tidak jauh berbeda dengan fasilitator. Selama proses simulasi, ia harus menunjukan sikap yang tidak evaluative namun tetap suportif. Disini guru bertugas untuk menyajikan, lalu memfasilitasi pemahaman dan penafsiran tentang aturan-aturan simulasi. Selain itu, untuk dapat membuat aktivitas semenarik mungkin dan mendapat perhatian serta focus pada isu yang tidak relevan, guru harus lansung menghampiri kelompok yang menenangkan permainan.
d. System Dukungan
Yaitu berupa Social Science Education Consortium data book yang menyajikan lebih dari lima puluh simulasi yang cocok digunakan dalam situasi social. Selain itu banyak simulasi computer telah dikembangkan pada tahun-tahun belakangan ini dan sangat mudah dipraktikan.
e. Pengaruh
Dapat menuntun pada pencapaian hasil akademik, seperti konsep dan skill, kerja sama dan persaingan, pemikiran kritis dan pembuatan keputusan, pengetahuan system politik, social, dan ekonomi, efektivitas, kesadaran terhadap masing-masing peran, dan menerima konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.
Selamat datang di blog Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif
Kamis, 16 Maret 2017
Rabu, 08 Maret 2017
MODEL PEMBELAJARAN INDIVIDUAL
A. Model Pembelajaran Individual
Pembelajaran individual
adalah pembelajaran yang memetik beratkan bantuan dan bimbingan kepada masing2
individu. Bantuan dan bimbingan belajar kepada individu juga ditemukan pada
klasikal tetapi prinsipnya berbeda. Pada pembelajaran individual , pembelajaran
memberi bantuan kepada masing2 pribadi. Sedangkan pada pembelajaran klasikal ,
pembelajaran memberi bantuan individual secara umum.
Pembelajaran Individual atau
Pengajaran Perseorangan merupakan suatu strategi untuk mengatur kegiatan
belajar mengajar sedemikian rupa sehingga setiap siswa memperoleh perhatian
lebih banyak dari pada yang dapat diberikan dalam rangka pengelolaan kegiatan
belajar mengajar dalam kelompok siswa yang besar. Menurut duane (1973)
pengajaran individual merupakan suatu cara pengaturan program belajar dalam setiap
mata pelajaran, disusun dalam suatu cara tertentu yang disediakan bagi tiap
siswa agar dapat memacu kecepatan belajarnya dibawa bimbingan guru.
Adanya perbedaan individual menunjukkan adanya
perbedaan kondisi belajar setiap orang, agar individual dapat berkembang secara
optimal dalam proses belajar diperlukan orientasi yang paralel dengan kondisi
yang dimilinya dituntut penghargaan akan individualitas. Dalam pengajaran
beberapa perbedaan yang harus diperhatikan, yakni:
1. Perbedaan
umur
2. Perbedaan
intelegensi
3. Perbedaan
kesanggupan dan kecepatan
4. Perbedaan
jenis kelamin
Perbedaan individual tersebut harus mendapat
perhatian guru agar berhasil dalam pemberian pembelajaran kepada siswa. Untuk
mengetahui itu guru harus mengenal perbedaan yang ada pada siswa, antara lain
dengan cara tes, mengunjungi rumah orang tua siswa, sosiogram, dan case studi.
Model Pembelajaran Individual
menawarkan solusi terhadap masalah peserta didik yang beraneka ragam tersebut.
Pembelajaran individual memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
menentukan sendiri tempat, waktu, kapan dirinya merasa siap untuk menempuh
ulangan atau ujian. Pembelajaran individual mempunyai beberapa ciri, sebagai
berikut :
1.
Peserta didik belajar sesuai
dengan kecepatannya masing – masing, tidak pada kelasnya.
2.
Peserta didik belajar secara
tuntas, karena peserta didik akan ujian jika mereka siap.
3.
Setiap unit yang dipelajari
memuat tujuan pembelajaran khusus yang jelas.
4.
Keberhasilan peserta didik diukur
berdasarkan sistem nilai mutlak. Ia berkompetisi dengan angka bukan dengan
temannya.
Model pembelajaran
individual ini bertitik tolak dari teori Humanistik yaitu berorientasi terhadap
pengembangan diri individu. Perhatian utamanya pada emosional siswa untuk
mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Model ini
menjadikan pribadi siswa yang mampu membentuk hubungan yang harmonis serta
mampu memproses informasi secara efektif.
Model ini juga
berorientasi pada individu dan perkembangan kelakuan. Tokoh humanistik adalah
Abraham Maslow (1962), R.Rogers,C.Buhler dan Arthur Comb. Menurut teori ini ,
guru harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif , agar siswa merasa
bebas dalam belajar dan mengembangkan dirinya , baik emosional maupun
intelektual . Teori humanistik timbul sebagai gerakan memanusiakan manusia .
Pada teori humanistik ini, pendidik seharusnya berperan sebagai pendorong ,
bukan menahan sensitifitas siswa terhadap perasaannya.
Implikasi
teori humanistik dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Bertingkah laku dan belajar adalah hasil pengamatan;
2. Tingkah laku yang ada , dapat dilaksanakan sekarang
(learning to do);
3. Semua individu memiliki dorongan dasar terhadap
aktualisasi diri;
4. Sebagian besar tingkah laku individu adalah hasil dari
konsepsinya sendiri;
5. Mengajar adalah bukan hal penting , tapi belajar siswa
adalah sangat penting (learn how to learn);
6. Mengajar adalah membantu individu untuk mengembangkan
suatu hubungan yang produktif dengan lingkungannya dan memandang dirinya
sebagai pribadi yang cakap.
Model pembelajaran
personal ini meliputi strategi pembelajaran sebagai berikut:
1.
Pembelajaran
non-direktif , bertujuan untuk membentuk kemampuan dan perkembangan pribadi
(kesadaran diri, pemahaman dan konsep diri);
2. Latihan kesadaran , bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan interpersonal atau kepedulian siswa;
3. Sintetik; untuk mengembangkan kreatifitas pribadi dan
memecahkan masalah secara kreatif;
4.
Sistem
konseptual , untuk meningkatkan kompleksitas dasar pribadi yang luwes.
Menurut Jioyce dan Weil (1986)
memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
1. Sintaks
(Syntax) yaitu urutan langkah pengajaran yang menunjuk pada fase-fase
/tahap-tahap yang harus dilakukan oleh guru bila ia menggunakan model
pembelajaran tertentu. Misalnya model eduktif akan menggunakan sintak yang berbeda dengan model induktif
pembelajaran tertentu. Misalnya model eduktif akan menggunakan sintak yang berbeda dengan model induktif
2.
Prinsip Reaksi (Principles of
Reaction) berkaitan dengan pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana
seharusnya guru melihat dan memperlakukan para siswa, termasuk bagaimana
seharusnya guru memberikan respon terhadap siswa. Prinsip ini memberi petunjuk
bagaimana seharusnya guru menggunakan aturan permainan yang berlaku pada setiap
model.
3.
Sistem Sosial (The Social System
adalah pola hubungan guru dengan siswa pada saat terjadinya proses pembelajaran
(situasi atau suasana dan norma yang berlaku dalam penggunaan model
pembelajaran tertentu)
4.
Sistem Pendukung (Support System)
yaitu segala sarana, bahan dan alat yang diperlukan untuk menunjang
terlaksananya proses pembelajaran secara optimal.
5.
Dampak Instruksional (Instructional
Effect) dan Dampak Pengiring (Nurturant Effects). Dampak instruksional adalah
hasil belajar yang dicapai atau yang berkaitan langsung dengan materi
pembelajaran, sementara dampak pengiring adalah hasil belajar samapingan
(iringan) yang dicapai sebagai akibat dari penggunaan model pembelajaran
tertentu.
B. Sintaks Model Pembelajaran Individu
Pengajaran individual dapat mencakup cara-cara
pengaturan sebagai berikut:
1.
Rencana Studi Mandiri (Independent Study plans)
Guru dan siswa bersama-sama mengadakan perjanjian mengenai materi pelajaran
yang akan dipelajari dan apa tujuannya. Para siswa mengatur belajarnya sendiri
dan diberikan kesempatan untk berkonsultasi secara berkala kepada guru untuk
memperoleh pengarahan atau bantuan dalam menghadapi tes dan menyelesaikan
tugas-tugas perseorangan.
2.
Studi yang Dikelola Sendiri (Self-Directed Study)
Siswa diberi sejumlah daftar tujuan yang harus dicapai serta materi
pelajaran yang harus dipelajari untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan,
dilengkapi dengan daftar kepustakaan. Pada waktu-waktu tertentu siswa menempuh
tes dan dinyatakan lulus apabila telah memenuhi kriteria yang ditetapkan.
3.
Program Belajar yang berpusat pada siswa (Learner-Centered Program)
Dalam batas-batas tertentu siswa diperbolehkan menentukan sendiri materi
yang akan dipelajari dan dalam urutan yang bagaimana. Setelah siswa menguasai
kemampuan-kemampuan pokok dan esensial, mereka diberi kesempatan untuk belajar
program pengayaan.
4.
Belajar Menurut Kecepatan Sendiri (Self-Pacing)
Siswa mempelajari materi
pelajaran tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus yang telah
ditetakan oleh guru. Semua siswa arus mencapai tujuan pembelajaran khusus yang
sama, namn mereka mengatur sendiri laju kemajuan belajarnya daam mempelajari
materi pelajaran tersebut.
5.
Pembelajaran yang ditentukan oleh siswa sendiri. (Student-Determined
Instruction)
Pengaturan pembelajaran tersebut menyangkut: penentuan tujuan pembelajaran
(umum dan khusus), pilihan media pembelajaran dan nara suumber, penentuan
alokasi waktu untuk mempelajari berbagai topik, penentuan laju kemajuan
sendiri, mengevaluasi sendiri pencapaian tujuan pembelajaran, dan kebebasan
untuk memprioritaskan materi pelajaran tertentu.
6.
Pembelajaran Sesuai Diri (Individual Instruction)
Strategi pembelajaran ini mencakup enam unsur dasar, yaitu, kerangka waktu
yang luwes, adanya tes diagnostik yang diikuti pembelajaran perbaikan
(memperbaiki keselahan yang dibuat siswa atau memberi kesempatan kepada siswa
untuk ;melangkah bagian materi pelajaran yang telah dikuasainya, pemberian kesempatan
kepada siswa untuk memilih bahan belajar yang sesuai, penilaian kemajuan
belajar siswa dengan menggunakan bentuk-bentuk penilaian yang dapat dipilih dan
penyediaan waktu mengerjakan yang luwes, pemilihan lokasi belajar yang bebas,
dan adanya bentuk-bentuk kegiatan belajar bervariasi yang dapat dipilih.
7.
Pembelajaran Perseorangan Tertuntun (Indivully Prescribed Instruction)
Sistem pembelajaran ini didasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran
terprogram. Setiap siswa diarahkan pada program belajar masing-masing
berdasarkan rencana kegiatan belajar yang telah disiapkan oleh guru atau guru
bersama siswa berdasrkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan
dirumuskan secara operasional. Rencana kegiatan ini berkaitan dengan materi
pelajaran yang harus dipelajari atau kegiatan yang harus dilakukan siswa.
C. Metode Dan Teknik Yang Digunakan
1.
Metode Tanya Jawab
Tanya jawab ialah suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui bentuk
pertanyaan yang perlu dijawab oleh anak didik. Dengan metode ini, antara lain
dapat dikembangakan keterampilaan mengamati, menginterprestasi,
mengklasifikasi, membuat kesimpulan dan menerapkan. Metode Tanya jawab
mempunyai tujuan agar siswa dapat mengerti atau mengingat ingat tentang apa
yang dipelajari.
2.
Metode Tugas
Metode tugas adalah metode
penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan
kegiatan belajar. Masalah tugas yang dilaksanakan oleh siswa dapat dilakukan
didalam kelas, dihalaman sekolah, dan diperpustaan ataupun dirumah asalkan
tugas itu dapat dikerjakan. Metode ini diberikan karena dirasakan bahan
pelajaran yang terlalu banyak sementara waktu sedikit. Tugas biasanya bisa
dilaksanakan dirumah, disekolah, dan diperpustakaan. Tugas bisa merangsang anak
untuk aktif belajar, baik secara individual ataupun kelompok.
3.
Metode Latihan
Metode latihan yang disebut
juga metode training merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan
kebiasaan–kebiasaan tertentu, juga sebagai sarana untuk memelihara
kebiasaan-kebiasaan yang baik.
4.
Metode Pembiasaan
Metode pembiasaan adalah
sebuah cara yang dapat dilakukan untuk pembiasaan anak didik berfikir, bersikap
dan bertindak sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.
5.
Metode Keteladanan
Keteladanan dalam bahasa arab
di sebut uswah, iswah, atau qudwah, qidwah yang berarti perilaku baik yang
dapar ditiru oleh orang lain (anak didik). Metode keteladanan memiliki peranan
yang sangat signifikan dalam upaya pencapaian keberhasilan pendidikan.
Menurut
Hamzah B. Uno (2008 : 18), ada beberapa model pembelajaran yang termasuk pada
pendekatan pembelajaran individual, diantaranya adalah model pembelajaran
pengajaran tidak langsung (non directive teaching), model pembelajaran
pelatihan kesadaran (awareness training), sinektik, sistem konseptual, dan
model pembelajaran pertemuan kelas (clasroom meeting).
Berikut adalah model-model pembelajaran yang lain :
Berikut adalah model-model pembelajaran yang lain :
1. Distance learning (pembelajaran jarak jauh)
2. Resource-based learning (pembelajaran
langsung dari sumber)
3. Computer-based training (pelatihan berbasis
komputer)
4. Directed private study (belajar secara privat
langsung)
D. Peranan Pembelajar Dalam Pembelajaran Individual
1. Dalam perencanaan kegiatan belajar adalah :
a. membantu merencanakan kegitan belajar pebelajar,
dengan musyawarah pembelajar membantu pebelajar menetapkan tujuan belajar.
b. membicarakan pelaksanaan belajar, mengemukakan
kriteria keberhasilan belajar, menentukan waktu dan kondisi belajar
c. berperan sebagai penasehatatau pembimbing membantu
pebelajar dalam penilaiaanhasil belajar dan kemajuan sendiri.
2. dalam pengorganasasian gegiatan belajar adalah:
a. memberikan orientasi umum sehubungan dengan dengan
belajar topik tertentu
b. membuat variasi kegiatan belajar agar tidak terjadi
kebosanan
c. mengkoordinasiakankegiatan dengan memperhatiakan
kemajuan, materi, media, dan sumber.
d. membagi perhatian pada sejumlah pebelajar menurut
tugas dan kebutuhan pebelajar memberikan balikan pada setiap pebelajar
e. mengakhiri kegiatan belajar suatu unjuk hasil belajar
berupa laporan atau pameran hasil kerja.
E.
Tujuan
Pembelajaran Individual
Tujuan pembelajaran
individual adalah sebagai beikut :
1. Pemberian kesempatan dan keleluasaan pembelajar untuk
belajar berdasarkan kemampuan sendiri . dalam pembelajaran pembelajar menggunakan
ukuran-ukuran kemampuan rata-rata kelas. Dalam pembelajaran individual
awal pelajaran adalah kemampuan tiap individual , sedangkan pada pembelajaran
klasikal awal pelajaran berdasarkan rata-rata kelas . pembelajaran menyesuaikan
diri dengan kemampuan rata-rata kelas.
2. Pengembangan tiap individusecara optimal . tiap
individu memiliuki paket pembelajaran sendriri-sendiri. Yang sesuai dengan
tingkat belajarnya sesuai individual juga.
F.
Kelebihan Dan
Kekurangan Pembelajaran Individual
1. Kelebihan
a. Pembelajaran tidak dibatasi waktu
b. Siswa dapat belajar secara tuntas
c. Perbedaan-perbedaan yang banyak di antara
para peserta dipertimbangkan
d. Para peserta didik dapat bekerja sesuai
dengan tahapan mereka dengan waktu yang dapat mereka sesuaikan
e. Gaya-gaya pembelajaran yang berbeda dapat
diakomodasi
f. Hemat untuk peserta dalam jumlah besar
g. Para peserta didik dapat lebih terkontrol
mengenai bagaimana dan apa yang mereka pelajari
h. Merupakan proses belajar yang bersifat aktif
bukan pasif
2. Kelemahan
Beberapa kelemahan:
a. Memerlukan waktu yang banyak untuk
mempersiapkan bahan-bahan
b. Motivasi peserta mungkin sulit dipertahankan
c. Peran instruktur perlu berubah
d. Keberhasilan tujuan pembelajaran kurang
tercapai, karena tidak ada tempat untuk siswa bertanya
G. Rumpun Individual
Rumpun individual
yakni bagaimana seorang fasilitator menggunakan teknik yang bersifat non
direktif atau tidak langsung, dengan menggali informasi dari siswa mengenai
dunia sekitamya. Tekanan dilakukan untuk membantu siswa memahami dirinya
sendiri, apa yang diceritakannya, tanggungjawab yang harus dipikulnya, dan arah
hidupnya. Suasana yang diciptakan dalam model ini adalah suasana kesejajaran
antara siswa dan fasilitator yang sama‑sama dalam proses menjadi manusia. Fokus
pembelajaran semacam ini adalah pada individu itu secara menyeluruh dan bukan
terutama kepada aspek‑aspek yang bersifat parsial. Di antara hal yang
dikembangkan dalam model ini adalah konsep diri, yaitu bagaimana gambaran
tentang diri seseorang baik jasmani maupun rohaninya, serta kemampuan sosial,
stabilitas emosi, dan kemampuan-kemampuan lainnya. Diharapkan dengan konsep
diri yang positif, seseorang menjadi realistis terhadap keadaan dirinya
Model-model
pembelajaran ini menekankan pada proses dalam “membangun/mengkonstruksi” dan
mengorganisasi realita, yang memandang manusia sebagai pembuat makna.
Model-model pembelajaran rumpun ini memberikan banyak perhatian pada kehidupan
emosional. Fokus pembelajaran ditekankan untuk membantu individu dalam
mengembangkan hubungan individu dengan lingkungannya dan untuk melihat dirinya
sendiri. Jenis-jenis
model pembelajaran pribadi seperti tercantum pada tabel 3.2.
|
No.
|
Nama Model
Pembelajaran
|
Tokoh
|
Misi/tujuan/manfaat
|
|
1
|
Carl Rogers
|
Penekanan pada pembentukan kemampuan
belajar sendiri untuk mencapai pemahaman dan penemuan diri sendiri sehingga
terbentuk konsep diri. Model ini menekankan pada hubungan guru-peserta didik.
|
|
|
2.
|
Fritz Perls
William Schutz
|
Pembentukan kemampuan menjajagi dan
menyadari pemahaman diri sendiri.
|
|
|
3
|
William
Gordon
|
Pengembangan individu dalam hal kreativitas
dan pemecahan masalah kreatif.
|
|
|
4
|
David Hunt
|
Didisain untuk meningkatkan kompleksitas
pribadi dan fleksibilitas.
|
|
|
5
|
William
Glasser
|
Pengembangan pemahaman diri dan
tanggungjawab pada diri sendiri dan kelompok sosial lainnya.
|
Langganan:
Postingan (Atom)